Logo Header

Api yang Kita Kenal, Api yang Kita Takutkan

AwwA
AwwA Kamis, 22 Oktober 2026 11:52
Foto: Syahrullah Sanusi
Foto: Syahrullah Sanusi

TEBARAN.COM,Bagi manusia, api tidak pernah sekadar api. Ia adalah awal peradaban: pemasak makanan, penghangat malam, pembuka lahan. Kebakaran hutan menjadi paradoks. Sesuatu yang lama menjadi sahabat kini tampil sebagai bencana yang menyesakkan dada, menutup langit, dan meluluhlantakkan ruang hidup.

Di banyak masyarakat adat, api punya tempat dalam pengetahuan lokal. Peladang di Kalimantan dan Sumatra membakar lahan dengan hitungan musim, membuat sekat bakar, dan menjaga agar api tidak menjalar. Di Australia, orang Aborigin mempraktikkan pembakaran kecil dan terkendali selama ribuan tahun untuk merawat lanskap. Di sini api adalah alat yang dikenali wataknya, dijinakkan lewat aturan bersama, dan tidak dibiarkan liar.

Kebakaran hutan yang menghancurkan umumnya lahir dari hal lain: pembukaan lahan skala besar, pengeringan gambut, dan tekanan ekonomi yang mengubah hutan menjadi komoditas. Ironisnya, peladang kecil kerap paling mudah disalahkan dan dijerat hukum, padahal api yang membesar sering berpangkal dari kepentingan yang jauh lebih besar dan sulit disentuh. Di sinilah kebakaran menjadi persoalan keadilan, bukan hanya persoalan ekologi.

Dampaknya paling terasa di tubuh dan ingatan manusia. Anak-anak batuk berbulan-bulan, sekolah diliburkan, orang tua menahan napas di balik masker tipis. Bagi komunitas yang hidup dari hutan, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga tempat berburu, tanaman obat, situs leluhur, dan cerita yang melekat pada lanskap itu. Hutan yang terbakar adalah perpustakaan yang musnah sebelum sempat dibaca.

Barangkali pertanyaan yang paling jujur bukan “siapa yang menyalakan api?”, melainkan “hubungan seperti apa yang kita bangun dengan hutan?” Jika hutan hanya dipandang sebagai lahan kosong menunggu dikonversi, api akan terus menjadi jalan pintas. Jika ia dipandang sebagai rumah bersama, lengkap dengan kearifan yang menjaganya, api bisa kembali pada tempatnya: alat yang dihormati, bukan ancaman yang diwariskan.

Kebakaran hutan lazim dibaca sebagai peristiwa alam atau kelalaian individu. Kajian lintas disiplin menunjukkan gambaran yang lebih rumit: api adalah hasil interaksi iklim, vegetasi, dan manusia, sehingga ia selalu terbingkai oleh nilai, teknologi, dan relasi kuasa.

Sejarawan lingkungan Stephen Pyne menyebut manusia sebagai “makhluk pengendali api”. Menurutnya, kebudayaan membentuk rezim api (fire regime) pada lanskap, yakni frekuensi, intensitas, dan musim terbakar. Perubahan cara hidup, dari berburu-meramu, berladang, hingga industri, mengubah pola api itu. Pyne bahkan menyebut zaman kita Pyrocene, ketika pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan iklim membuat api lepas dari kendali budaya lama.

Pendekatan ekologi budaya (Julian Steward) memandang kebudayaan sebagai strategi adaptasi terhadap lingkungan. Dalam kerangka ini, ladang berpindah bukan praktik primitif, melainkan sistem yang mengatur waktu bakar, rotasi lahan, dan pemulihan hutan. Kajian tentang pembakaran tradisional Aborigin Australia dan peladang Asia Tenggara menunjukkan bahwa api yang dikelola dengan norma komunal justru dapat mengurangi risiko kebakaran besar.

Ekologi politik (Blaikie, Robbins) menekankan bahwa bencana lingkungan tidak lepas dari struktur ekonomi dan kekuasaan. Michael Dove, misalnya, menunjukkan bagaimana negara kerap membingkai peladang kecil sebagai perusak hutan. Wacana ini menutupi peran konversi lahan skala besar, drainase gambut, dan kebijakan yang membuka ruang bagi api liar. Kebakaran menjadi persoalan distribusi risiko: yang menyalakan sering bukan yang paling menderita.

api dipahami berbeda-beda: sebagai alat, berkah, hukuman, atau ancaman. Makna ini memengaruhi kebijakan. Pendekatan pemadaman total (fire exclusion), misalnya, lahir dari anggapan bahwa semua api buruk, dan di beberapa wilayah justru menumpuk bahan bakar hingga kebakaran besar tak terelakkan. Dalam kerangka masyarakat berisiko (Ulrich Beck), kebakaran besar juga menunjukkan bahwa dampak modernisasi, seperti kabut asap lintas batas, kini ditanggung bersama.

Teori-teori ini bertemu pada satu kesimpulan: pengelolaan kebakaran yang efektif perlu menggabungkan sains, pengakuan atas pengetahuan lokal, dan keadilan dalam penegakan hukum. Mengelola api berarti mengelola hubungan manusia dengan hutan dan dengan sesamanya.

Oleh : Syahrullah Sanusi

AwwA
AwwA Kamis, 22 Oktober 2026 11:52
Komentar