Logo Header

Ketahanan Obat sebagai Pilar Ketahanan Nasional, Taruna Ikrar Bertemu Ketua MPR dan Dubes RI di China

admintebaran
admintebaran Senin, 21 September 2026 16:41
Ketahanan Obat sebagai Pilar Ketahanan Nasional, Taruna Ikrar Bertemu Ketua MPR dan Dubes RI di China

TEBARAN.COM,BEIJING — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. bertemu dengan Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani dan Duta Besar Republik Indonesia untuk China merangkap Mongolia Djauhari Oratmangun di sela rangkaian kunjungan kerja di China.

Pertemuan tersebut membahas isu strategis ketahanan obat dan pangan sebagai bagian penting dari ketahanan nasional. Ketiganya bertukar pandangan mengenai perlunya Indonesia memperkuat kemandirian di sektor farmasi dan pangan, mulai dari riset dan inovasi, ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi dalam negeri, penguasaan teknologi, sumber daya manusia, hingga sistem regulatori yang kuat.

Taruna Ikrar mengatakan ketahanan obat tidak cukup dimaknai sebatas kemampuan menyediakan obat ketika dibutuhkan. Menurutnya, ketahanan obat harus dibangun melalui suatu ekosistem nasional yang mampu menopang seluruh mata rantai pengembangan dan produksi obat.

“Ketahanan obat dan pangan merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Indonesia harus semakin kuat dalam riset, inovasi, bahan baku, produksi, teknologi, dan regulasi. Kerja sama internasional harus kita arahkan untuk memperkuat kapasitas nasional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia,” ujar Taruna.

Menurut Taruna, dinamika geopolitik, perkembangan teknologi, perubahan rantai pasok global, serta meningkatnya kebutuhan terhadap produk kesehatan menunjukkan pentingnya Indonesia memiliki kapasitas nasional yang semakin mandiri. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap sumber bahan baku dan teknologi dari luar negeri perlu dijawab melalui penguatan industri, riset, inovasi, dan transfer teknologi.

Dalam konteks tersebut, kunjungan BPOM ke China juga diarahkan untuk memperkuat hubungan regulatori Indonesia–China. Salah satu agenda yang dibahas adalah upaya finalisasi nota kesepahaman antara BPOM RI dan National Medical Products Administration (NMPA) China.

Penguatan kerja sama regulatori diharapkan membuka ruang yang lebih luas bagi pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan perkembangan teknologi, serta kolaborasi yang mendukung kemajuan industri farmasi dan sektor kesehatan Indonesia.

Taruna menekankan bahwa posisi BPOM sebagai regulator memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Regulasi tidak hanya berfungsi memastikan keamanan, khasiat/manfaat, dan mutu produk, tetapi juga perlu mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan serta memberikan ruang bagi inovasi yang bertanggung jawab.

Pertemuan Taruna Ikrar dengan Ahmad Muzani dan Djauhari Oratmangun juga menempatkan isu kesehatan dalam perspektif yang lebih luas. Ketahanan obat, pangan, industri farmasi, teknologi kesehatan, dan sumber daya manusia merupakan elemen yang saling berkaitan dalam memperkuat daya tahan bangsa menghadapi perubahan global.

Agenda tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional, termasuk Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait penguatan kemandirian bangsa, ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, penguasaan sains dan teknologi, serta penguatan industri nasional.

Selain agenda diplomasi regulatori dan ketahanan obat, kunjungan Taruna Ikrar bersama delegasi BPOM RI ke China juga diisi dengan agenda ilmiah. Taruna tampil dalam International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum dan memberikan kuliah pakar di Universitas Tsinghua, China.

Dalam forum tersebut, Taruna membawa perspektif mengenai perkembangan Artificial Intelligence (AI), teknologi kedokteran baru, precision medicine, neurosains, hingga tantangan regulasi kesehatan pada masa depan. Menurutnya, perkembangan sains dan teknologi harus diikuti kemampuan regulator untuk beradaptasi tanpa mengurangi standar perlindungan terhadap masyarakat.

Di tengah rangkaian kunjungan tersebut, Taruna juga meluncurkan dua buku karyanya, yakni “Dua Tahun Saujana Bhakti Taruna Ikrar” dan “Neuroleadership”. Peluncuran di universitas Tsinghua china dan berlangsung dalam perjalanan menggunakan kereta cepat dari Beijing menuju Jinan.

Buku “Dua Tahun Saujana Bhakti Taruna Ikrar” merekam perjalanan dua tahun kepemimpinan Taruna sebagai Kepala BPOM RI, termasuk transformasi kelembagaan, digitalisasi, penguatan jejaring internasional, serta capaian BPOM memperoleh status WHO-Listed Authority (WLA).

Sementara buku “Neuroleadership” mengangkat hubungan antara neurosains, brain mapping, perilaku manusia, dan kepemimpinan. Taruna memadukan perspektif keilmuan dengan pengalaman kepemimpinan untuk melihat bagaimana pemahaman terhadap mekanisme kerja otak dapat berkontribusi terhadap proses pengambilan keputusan, pengendalian emosi, empati, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.

“Neuroleadership bukan hanya berbicara tentang bagaimana memimpin orang lain, tetapi terlebih dahulu bagaimana seorang pemimpin memahami dan memimpin dirinya sendiri. Otak adalah pusat keputusan, emosi, empati, kreativitas, dan kemampuan manusia beradaptasi,” kata Taruna.

Dalam kunjungan tersebut, Taruna didampingi delegasi BPOM RI, antara lain Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Mohamad Kashuri; Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Dr. William Adi Teja; Pakar Ahli Bidang Hukum dan Humas Dr. Wachyudi Muchsin; Pakar Ahli Bidang Kebijakan Obat dan Makanan Hj. Nor Andi Arinawati Arsyad; serta Pakar Ahli Bidang Sediaan Farmasi Dra. Rita Endang.

Turut mendampingi Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Lynda Kurnia Wardhani serta sejumlah direktur, kepala biro, kepala pusat, pejabat, dan jajaran BPOM lainnya.

Taruna mengatakan rangkaian kunjungan ke China membawa satu benang merah: bagaimana diplomasi regulatori, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kerja sama internasional dapat dikonversi menjadi penguatan kapasitas nasional.

“Indonesia harus mampu mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Kita membangun kerja sama bukan untuk memperbesar ketergantungan, tetapi untuk memperkuat kemampuan bangsa sendiri. Tujuan akhirnya adalah kemandirian dan perlindungan masyarakat,” tutur Taruna.

Dari pertemuan dengan Ketua MPR RI dan Duta Besar RI, dialog dengan mitra regulatori, forum ilmiah internasional, hingga peluncuran karya intelektual, rangkaian kunjungan di China tersebut membawa pesan bahwa ketahanan obat dan pangan merupakan bagian dari agenda strategis ketahanan nasional Indonesia di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.

 

admintebaran
admintebaran Senin, 21 September 2026 16:41
Komentar