Logo Header

Gandeng Kadis Pendidikan Jatim, BPSDM Sulsel Bahas Pendidikan Bermutu dan Berdampak di Webinar ASN Adaptif Seri ke-66

Nuri
Nuri Minggu, 23 Agustus 2026 07:08
Gandeng Kadis Pendidikan Jatim, BPSDM Sulsel Bahas Pendidikan Bermutu dan Berdampak di Webinar ASN Adaptif Seri ke-66

TEBARAN.COM,MAKASSAR –Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya sekolah, siswa yang mengikuti pembelajaran, maupun capaian lulusan. Pendidikan bermutu harus menghasilkan perubahan nyata bagi peserta didik dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M., saat menjadi narasumber Webinar ASN Adaptif Seri ke-66 yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (20/8/2026).

Webinar bertema “Pendidikan Bermutu dan Berdampak: Refleksi Semangat Kemerdekaan” itu diikuti 2.938 peserta dari kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten/kota di berbagai daerah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Aries mengatakan paradigma pendidikan perlu bergeser dari sekadar memastikan sekolah berjalan menuju pendidikan yang mampu menghasilkan perubahan bagi murid dan lingkungan sekitarnya.

“Pendidikan bermutu bukan hanya input, proses, dan output, tetapi bagaimana hasilnya berdampak,” kata Aries.

Menurut dia, keberhasilan pendidikan perlu dilihat lebih jauh, mulai dari kompetensi dan karakter yang terbentuk pada peserta didik hingga manfaat yang mereka berikan setelah menyelesaikan pendidikan.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai berapa banyak anak yang bersekolah, tetapi juga apa yang dipelajari, kompetensi yang diperoleh, karakter yang terbentuk, apa yang dilakukan setelah lulus, serta dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

Aries memaparkan lima kerangka transformasi pendidikan yang dikembangkan Jawa Timur, yakni transformasi pembelajaran, transformasi digital, transformasi sumber daya manusia, transformasi kependidikan, dan transformasi dampak.

Transformasi pembelajaran diarahkan pada proses belajar yang mendalam, kontekstual, aktif, dan bermakna. Sementara transformasi digital menempatkan teknologi sebagai alat untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pada saat yang sama, transformasi sumber daya manusia mendorong guru, kepala sekolah, pegawai, tenaga kependidikan, dan ASN untuk terus belajar. Adapun transformasi kependidikan diarahkan agar sekolah berkembang menjadi organisasi yang terus belajar dan berinovasi. Menghasilkan program yang baik dan menyelesaikan masalah.

Ia menekankan, kebijakan pendidikan harus memiliki tujuan yang jelas mengenai persoalan yang hendak diselesaikan serta perubahan yang ingin dihasilkan.

Dalam paparannya, Aries juga menggambarkan skala pengelolaan pendidikan menengah di Jawa Timur. Berdasarkan data Dapodik 20 Maret 2026, terdapat 4.068 sekolah dengan 1.357.986 siswa, 84.751 guru, dan 23.771 tenaga kependidikan.

Besarnya ekosistem pendidikan tersebut, kata dia, membutuhkan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas, tetapi juga memastikan setiap program memberikan hasil dan dampak.

Aries juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang semakin masuk ke dunia pendidikan.
Guru tentu harus menjadi penggerak utama di dalam proses pendidikan itu sendiri,” katanya.

Ia mengatakan teknologi dapat membantu guru dalam mentransfer pengetahuan sekaligus mengikuti perkembangan peserta didik yang semakin akrab dengan teknologi.

“Teknologi sekali lagi adalah bagian dari pemacu para guru-guru kita untuk bisa mentransfer knowledge, bisa mengikuti, menyeimbangi murid-murid kita yang sudah menguasai teknologi sangat maju,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut tercermin dalam sejumlah praktik transformasi pendidikan Jawa Timur yang dipaparkan Aries, mulai dari digitalisasi pembelajaran, inovasi pembelajaran dan kurikulum, penguatan karakter dan literasi, hingga pengembangan pendidikan vokasi dan kewirausahaan.

Salah satunya melalui East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2026 yang menghimpun 24.727 pendaftar dan 19.765 karya inovasi pendidikan. Dari proses tersebut, 250 karya masuk tahap seleksi berikutnya, 50 karya terpilih untuk tahap lanjutan, hingga ditetapkan 25 karya terbaik.

Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri, mengatakan Webinar ASN Adaptif menjadi salah satu sarana bagi ASN untuk terus meningkatkan kompetensi di tengah perubahan dan dinamika birokrasi.
Ini merupakan salah satu sarana, wahana dari kita semuanya untuk bersama-sama terus mendorong peningkatan kompetensi diri kita, terus berupaya untuk meng-upgrade kemampuan kita dengan belajar bersama,” ujarnya.

Menurut Jufri, pembelajaran dari webinar tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan, tetapi dapat diterapkan di lingkungan kerja masing-masing.

“Tentu tidak ada pekerjaan yang benar-benar selesai. Setiap ada yang selesai, mungkin kita ada tantangan baru lagi, ada kondisi baru lagi yang harus kita sikapi,” katanya.

Ia berharap inspirasi dari webinar tersebut dapat mendorong ASN untuk melakukan perbaikan, termasuk dari lingkungan kerja masing-masing.

“Semoga itu menjadi penyemangat bagi kita untuk terus berbuat, minimal di lingkungan kecil kita,” pungkasnya. (*)

Nuri
Nuri Minggu, 23 Agustus 2026 07:08
Komentar