Lawan Hoaks & Tinggalkan Hafalan: Strategi Baru Kemendikdasmen Ubah Wajah Pendidikan Indonesia
TEBARAN.COM,MAKASSAR – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tancap gas memperkuat kualitas pendidikan nasional. Lewat Forum Komunikasi Publik yang digelar di Aula Siporio, Kantor BBPMP Sulawesi Selatan, Makassar, Sabtu (23/5/2026), pemerintah membeberkan strategi besar mulai dari cara berkomunikasi dengan publik hingga perombakan gaya belajar di kelas.
Acara yang mengusung tema “Kolaborasi Strategis dalam Meningkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan Dasar dan Menengah” ini dibuka secara virtual oleh Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, dan dihadiri oleh ratusan insan pendidikan se-Sulawesi Selatan.
1. Jurus ‘SIMI’: Cara Pemerintah Lawan Hoaks Pendidikan
Dalam arahannya, Yudhistira Nugraha menegaskan bahwa era komunikasi satu arah dari pemerintah sudah kuno. Di tengah derasnya arus digital, Kemendikdasmen kini menerapkan pendekatan SIMI (Sosialisasi, Informasi, Mitigasi, dan Intervensi) agar masyarakat mendapatkan informasi yang cepat, edukatif, dan solutif.
“Komunikasi publik harus hadir bukan hanya saat program diluncurkan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan penjelasan, pendampingan, hingga solusi,” ujar Yudhistira.
Empat pilar SIMI yang menjadi senjata baru pemerintah meliputi:
- Sosialisasi: Memperkenalkan program pemerintah secara menyeluruh.
- Informasi: Menyediakan data valid untuk menangkal hoaks dan disinformasi.
- Mitigasi: Mencegah kesalahpahaman atau potensi konflik akibat informasi yang sepotong-sepotong.
- Intervensi: Aksi nyata pemerintah turun langsung menyelesaikan masalah di lapangan.
2. Goodbye Hafalan, Selamat Datang Deep Learning
Kabar baik bagi para siswa! Gaya belajar jadul yang hanya mengandalkan hafalan materi akan segera ditinggalkan. Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Laksmi Dewi, menyatakan bahwa sekolah harus beralih ke pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).
Melalui pendekatan ini, siswa diberi ruang lebih besar untuk memahami konsep secara utuh dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar mengejar nilai di atas kertas.
“Anak-anak perlu belajar memahami, bukan sekadar mengingat. Pendidikan harus melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan membangun karakter yang kuat,” tegas Laksmi.
Ia juga mengingatkan para guru untuk terus beradaptasi dengan teknologi demi menciptakan suasana kelas yang aktif dan menyenangkan.
3. ‘Rumah Pendidikan’ dan Sekolah Bebas Perundungan
Selain kurikulum, transformasi digital dan keamanan siswa juga menjadi sorotan utama dalam forum ini:
Satu Platform untuk Semua: Pelatih Ahli Teknologi Pusdatin, Gamal Abdul Rohim, memperkenalkan Program Rumah Pendidikan. Platform digital terpadu ini dirancang untuk mendukung proses belajar, manajemen sekolah, hingga pengembangan kompetensi guru, bahkan untuk wilayah terpencil.
Sekolah Harus Jadi Safe Place: Pranata Humas Ahli Madya Pusat Penguatan Karakter, Dina Ayu Mirta, mengajak sekolah untuk membangun budaya aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan (anti-bullying). “Sekolah yang nyaman akan melahirkan anak-anak yang percaya diri dan tahu cara menghargai sesama,” tuturnya.
Sinergi untuk Masa Depan
Forum yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi diskusi hangat. Para peserta dari berbagai lembaga pendidikan di Sulsel tampak antusias mempertanyakan implementasi kurikulum hingga digitalisasi di daerah mereka.
Melalui forum ini, Kemendikdasmen berharap seluruh pihak—mulai dari pemerintah daerah, guru, hingga orang tua murid—bisa satu frekuensi dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan nasional. Berubahnya gaya belajar dan komunikasi ini diharapkan mampu membawa pendidikan Indonesia melompat lebih jauh.
- 1
- 2
- 3
