Logo Header

Teliti Network Governance Pengembangan Ekonomi Kreatif, Sri Asmidar Asmiddin Raih Gelar Doktor di UNHAS

Nuri
Nuri Selasa, 12 Mei 2026 18:25
Teliti Network Governance Pengembangan Ekonomi Kreatif, Sri Asmidar Asmiddin Raih Gelar Doktor di UNHAS

TEBARAN.COM,MAKASSAR — Sri Asmidar Asmiddin menjalani ujian tutup dan yudisium Program Doktor Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Jumat (11/5).

Dalam sidang tersebut, Sri mempertahankan disertasi berjudul “Network Governance dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal di Kota Baubau.” Ujian berlangsung di Aula Prof. Syukur Abdullah FISIP Unhas dan dipimpin Dekan FISIP Unhas selaku pimpinan sidang. Sidang turut dihadiri Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim, S.E., bersama istri yang juga Ketua Dekranasda Kota Baubau.

Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. Moch. Thahir Haning, M.Si. selaku promotor dan Prof. Dr. H. Muh. Akmal Ibrahim, M.Si. sebagai ko-promotor. Sementara penguji eksternal yakni Prof. Dr. Basri Bado, S.Pd., M.Si., serta penguji lainnya Prof. Dr. Badu Ahmad, dan M.Si., Prof. Dr. Ansar, M.S.

Penelitian ini mengkaji tata kelola pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di Kota Baubau. Menurutnya, potensi budaya daerah belum sepenuhnya didukung sistem kolaborasi antarlembaga yang kuat dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan kualitatif, penelitian tersebut melibatkan pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, komunitas budaya, media, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan pengembangan ekonomi kreatif di Kota Baubau masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada aspek integrasi kelembagaan, koordinasi lintas sektor, dan keberlanjutan kebijakan.

Sri menilai jejaring kolaboratif antaraktor belum berjalan optimal karena belum adanya forum kolaboratif permanen maupun lembaga koordinator utama yang mampu mengintegrasikan program secara berkelanjutan.

“Ekonomi kreatif berbasis budaya lokal membutuhkan kolaborasi yang kuat. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas budaya, dan media harus berjalan bersama agar potensi budaya lokal benar-benar bisa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” ujar ASN Pemerintah kota Baubau ini.

Sebagai kontribusi akademik, disertasi itu menawarkan model network governance dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dengan menambahkan tiga indikator utama, yakni collaborative governance, capacity building, dan collective action sebagai pengembangan teori Network Governance Provan dan Milward (1995).

Model tersebut menekankan pentingnya penguatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif, pembentukan forum kolaboratif lintas sektor, penguatan regulasi daerah, serta integrasi nilai budaya lokal dalam pembangunan ekonomi kreatif daerah.

Kehadiran Wali Kota Baubau bersama jajaran pemerintah daerah dinilai menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan riset dan peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis kebutuhan daerah.

Melalui penelitiannya, Sri berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan, khususnya di Kota Baubau dan kawasan Indonesia Timur.

Nuri
Nuri Selasa, 12 Mei 2026 18:25
Komentar