Logo Header

Standar Tak Ditawar, Wali Kota Makassar Tegas Soal Kualitas Imam

Nuri
Nuri Rabu, 06 Mei 2026 18:40
Standar Tak Ditawar, Wali Kota Makassar Tegas Soal Kualitas Imam

TEBARAN.COM,MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmennya menghadirkan imam kelurahan yang berkualitas melalui proses seleksi yang ketat, objektif, dan berintegritas.

Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Seleksi Calon Imam Kelurahan Kota Makassar Tahun 2026 yang digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (6/5/2026).

Dalam arahannya, Munafri—yang akrab disapa Appi—menekankan bahwa standar utama seorang imam tidak bisa ditawar. Ia menyebut kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai syarat mutlak yang tidak dapat dikompromikan.

“Kalau tidak pintar mengaji, ya tidak usah. Masa di satu kelurahan banyak yang bisa mengaji, tapi yang tidak bisa justru terpilih. Ini tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Selain kompetensi keagamaan, Appi juga menggarisbawahi pentingnya sikap toleransi. Menurutnya, imam bukan hanya pemimpin ibadah, tetapi juga figur sosial yang harus mampu merangkul seluruh elemen masyarakat yang heterogen.

“Kalau tidak toleran, juga jangan. Kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Imam harus hadir sebagai penyejuk, bukan sumber persoalan,” ujarnya.

Ia menilai peran imam sangat strategis dan tidak terbatas pada memimpin salat lima waktu. Imam diharapkan menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Appi mendorong agar masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat musyawarah sosial dan pembinaan generasi muda Qur’ani.

“Imam itu harus menjadi tempat menyelesaikan masalah. Ketika persoalan masyarakat dibawa ke masjid, di situlah seharusnya masalah itu selesai,” katanya.

Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, tidak ingin lagi menerima keluhan masyarakat terkait kinerja imam. Karena itu, proses seleksi harus benar-benar menghasilkan sosok yang memiliki moral, integritas, dan visi kuat dalam membangun umat.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan manajerial. Menurutnya, imam adalah pemimpin yang harus mampu mengelola organisasi masjid secara efektif bersama pengurus.
“Kalau kita bicara imam, kita bicara pemimpin. Kalau pemimpin, kita bicara manajemen. Ujungnya adalah outcome. Apa yang dihasilkan oleh masjid itu harus jelas dan maksimal,” tegasnya.

Appi turut mengingatkan peserta agar menjaga sikap sportif dalam proses seleksi. Ia menolak adanya narasi negatif dari peserta yang tidak lolos terhadap mereka yang terpilih.

“Namanya seleksi, pasti ada yang lulus dan tidak. Tapi jangan yang tidak lulus justru memberi sinyal negatif. Kita butuh kekompakan untuk membangun masjid yang berkualitas,” ujarnya.

Secara khusus, ia juga memberi peringatan kepada para penguji untuk menjaga integritas selama proses seleksi. Ia menegaskan bahwa kualitas imam yang dihasilkan mencerminkan kualitas dan integritas para penguji.

“Pastikan yang lulus adalah yang benar-benar kapabel, bukan karena persahabatan, hubungan darah, atau kedekatan,” tegasnya.

Pada seleksi tahun ini, sebanyak 140 peserta dari 103 kelurahan mengikuti tahapan seleksi yang meliputi administrasi, tes tertulis, wawancara, serta kemampuan baca tulis Al-Qur’an. Dari jumlah tersebut, 103 orang akan diterima sebagai imam kelurahan periode 2026–2029. (*)

Nuri
Nuri Rabu, 06 Mei 2026 18:40
Komentar