Logo Header

Tren KDRT Meningkat Selama PSBB, DPP Makassar: Kekerasan Dipicu Oleh Stress Akibat PHK.

Redaksi
Redaksi Sabtu, 16 Mei 2020 09:35
Tren KDRT Meningkat Selama PSBB, DPP Makassar: Kekerasan Dipicu Oleh Stress Akibat PHK.

RAGAM.ID, MAKASSAR – Menjalani karantina dan tetap berada di rumah bagi sebagian orang akan mempererat kebersamaan dalam keluarga. Namun, bagi sebagian lainnya, hal itu justru mendorong terjadinya konflik.

Pembatasan kehidupan sosial selama berminggu-minggu bahkan berbulanbulan, dalam kondisi tertentu, memang dapat menghadirkan ketidakpastian, pemisahan, dan ketakutan bagi banyak individu, pasangan, dan keluarga.

Dalam kondisi itu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi dan perceraian yang menghancurkan keluarga berlangsung. Perempuan dan anak-anak pun merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban.

Menurut hasil survei daring Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap lebih dari 20.000 keluarga, 95% keluarga dilaporkan stres akibat pandemi dan pembatasan sosial. Hal itu terjadi pada April-Mei 2020.

Data Komnas Perempuan selama wabah hingga 17 April, pengaduan kekerasan pada perempuan via surat elektronik sebanyak 204 kasus. Ada pula 268 pengaduan via telepon dan 62 via surat.

Begitulah gambaran lain dari pandemi. Di luar angka infeksi dan kematian yang kian melonjak, stres dan kecemasan juga menerpa sebagai dampak tidak langsung.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, Tenri A Palallo mengatakan tren jumlah laporan kekerasan yang masuk sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Kota Makassar meningkat.

“Kurang lebih ada 15, tadi ini ada 2, kemarin ada 3. Pemahaman kami biasanya tidak pernah sampai 15 orang dan itu mayoritas perempuan,” katanya.

Pengaduan kasus kekerasan dalam rumah tangga di Kota Makassar meningkat dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

Dirinya menambahkan, pengaduan kasus yang ada didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seperti pemukulan.

Ia menilai peningkatan kasus kekerasan dipicu faktor stres dari suami karena pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pembatasan sosial berskala besar.(*)

Redaksi
Redaksi Sabtu, 16 Mei 2020 09:35
Komentar