Preaming Medsos Pesanan Ancam Kepercayaan Publik terhadap Media Mainstream
Oleh: Ilham Husen
Ketua JMSI Sulsel
TEBARAN.COM, – Di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial kini bukan hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga arena pembentukan opini yang kerap tidak sehat. Fenomena “preaming medsos pesanan” semakin marak, yakni praktik membangun narasi tertentu demi kepentingan kelompok atau individu dengan menggiring opini publik tanpa dasar fakta yang jelas.
Persoalan serius muncul ketika banyak penggiat media sosial dengan mudah mengambil informasi dari berbagai sumber tanpa proses verifikasi yang memadai.
Potongan video, foto, maupun kutipan dipublikasikan secara sepihak, lalu dikemas dengan narasi provokatif demi mengejar perhatian, popularitas, atau kepentingan tertentu. Akibatnya, informasi yang beredar sering kali menyesatkan dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Kondisi ini perlahan mengancam kepercayaan masyarakat terhadap media mainstream dan informasi secara umum.
Publik menjadi sulit membedakan mana informasi yang telah melalui proses jurnalistik dan mana yang sekadar opini liar di media sosial. Padahal, produk jurnalistik lahir melalui proses verifikasi, konfirmasi, serta tanggung jawab etik yang jelas.
Lebih memprihatinkan lagi, framing pesanan di media sosial kerap digunakan untuk menyerang personal, lembaga, maupun pihak tertentu.
Narasi dibentuk sedemikian rupa untuk menggiring persepsi negatif publik, meskipun fakta utuhnya belum tentu demikian.
Jika dibiarkan, budaya informasi semacam ini dapat merusak ruang demokrasi digital dan memicu konflik sosial di tengah masyarakat.
Karena itu, literasi digital menjadi sangat penting. Masyarakat dituntut lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada konten yang belum terverifikasi. Di sisi lain, para penggiat media sosial juga perlu memiliki tanggung jawab moral agar tidak sembarangan menyebarkan informasi demi kepentingan sesaat.
Media sosial seharusnya menjadi ruang edukasi dan penyebaran informasi yang sehat, bukan alat propaganda atau sarana penyebaran informasi menyesatkan.
Kepercayaan publik adalah hal yang mahal. Ketika informasi dipermainkan demi kepentingan tertentu, maka yang dirugikan bukan hanya individu atau lembaga, tetapi juga kualitas demokrasi dan kecerdasan publik secara keseluruhan.
