SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA “Menyalakan Cahaya Literasi di Tengah Gelombang Digital” Oleh : Hj. Rosnaeni Arsyad, S.E., M.M
TEBARAN.COM,MAKASSAR — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang tak terbendung, buku tetap menjadi mercusuar pengetahuan yang tak pernah redup. Ia bukan sekadar kumpulan halaman berisi huruf, melainkan jendela dunia yang membuka cakrawala berpikir, memperkaya jiwa, dan menuntun manusia menuju peradaban yang lebih beradab. Hari Buku Sedunia bukan hanya seremoni, tetapi momentum untuk merenung: sudah sejauh mana kita menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar kebiasaan musiman?
Di era di mana informasi bergerak secepat sentuhan layar, kita sering terjebak dalam ilusi pengetahuan. Membaca judul, menelusuri ringkasan, atau sekadar melihat potongan konten pendek tidak cukup untuk membangun pemahaman yang utuh. Literasi sejati menuntut kedalaman, ketekunan, dan kesabaran—sesuatu yang hanya bisa dilatih melalui interaksi yang intens dengan buku. Buku mengajarkan kita berpikir runtut, menganalisis secara kritis, dan memahami konteks, bukan sekadar reaksi cepat tanpa dasar.
Sayangnya, budaya literasi kita masih menghadapi tantangan besar. Kemudahan akses teknologi justru sering kali menggeser minat membaca menjadi aktivitas instan yang dangkal. Padahal, teknologi dan buku bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan. Buku kini hadir dalam berbagai bentuk: digital, audio, hingga platform interaktif yang memudahkan siapa saja untuk mengakses ilmu kapan pun dan di mana pun. Masalahnya bukan pada medianya, melainkan pada kemauan kita untuk menyelami isi dan maknanya.
Meningkatkan literasi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap buku sejak dini. Anak-anak yang tumbuh dengan buku akan memiliki imajinasi yang lebih luas, empati yang lebih dalam, dan kemampuan berpikir yang lebih tajam. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pencipta gagasan yang mampu mengubah dunia.
Mari kita jujur: bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya ramai berbicara, tetapi bangsa yang kuat membaca dan berpikir. Buku adalah fondasi dari semua kemajuan—ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan peradaban itu sendiri. Tanpa budaya membaca yang kuat, kita hanya akan menjadi penonton dalam arus globalisasi, bukan pelaku yang menentukan arah.
Hari Buku Sedunia adalah panggilan untuk kembali. Kembali membuka lembar demi lembar, kembali melatih fokus yang mulai tergerus, dan kembali membangun hubungan yang intim dengan ilmu. Tidak perlu menunggu waktu luang yang sempurna. Mulailah dari hal kecil: beberapa halaman setiap hari, satu buku setiap bulan, atau diskusi sederhana tentang apa yang telah dibaca. Konsistensi kecil akan melahirkan perubahan besar.
Di era digital ini, justru kita membutuhkan literasi yang lebih kuat, bukan lebih lemah. Informasi yang melimpah tanpa kemampuan menyaring hanya akan melahirkan kebingungan dan disinformasi. Buku mengajarkan kita untuk memilah, memahami, dan mengambil hikmah. Ia melatih kita untuk tidak mudah terprovokasi, tidak mudah percaya, dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus yang belum tentu benar.
Mari jadikan membaca sebagai gaya hidup, bukan sekadar kewajiban. Jadikan buku sebagai sahabat, bukan hanya pajangan. Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa dalam warganya berpikir.
Selamat Hari Buku Sedunia. Saatnya kita bergerak, membuka buku, dan menyalakan kembali cahaya literasi.
