Logo Header

Mengapa Pembuatan Vaksin Corona Butuh Waktu yang Lama, Ini Tiga Sebabnya

Redaksi
Redaksi Sabtu, 02 Mei 2020 18:25
Mengapa Pembuatan Vaksin Corona Butuh Waktu yang Lama, Ini Tiga Sebabnya

RAGAM.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang mengawasi 90 penelitian yang sedang menguji vaksin virus corona pada akhir April 2020.

iklan

Berdasarkan kabar yang dilansir dari laman Huffington Post, Rabu (29/4/2020), menilik banyaknya kasus virus corona yang semakin menyebar, maka sejumlah peneliti pun melakukan banyak kegiatan di bidang imunisasi atau vaksin.

Beberapa orang mungkin bertanya-tanya, mengapa para ahli medis membutuhkan waktu sekitar 12-18 bulan sebelum seseorang bersiap untuk bebas dari virus corona?

Direktur Program Persatuan Penyakit Menular di University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas, AS, James Cutrell mengatakan, setidaknya memang membutuhkan waktu antara 12-18 bulan secara realistis untuk membuat vaksin, tetapi juga didasari dengan optimistis. “Hal yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap fase uji coba berjalan sesuai rencana dengan kerangka waktu yang optimistis pada setiap tahap tersebut,” ujar Cutrell.

Berikut 3 alasan mengapa vaksin Covid-19 membutuhkan waktu yang lama.

1. Mempelajari virus dan menentukan vaksin yang tepat

Seorang profesor teknik kimia dan biomolekuler di Universitas Delaware, AS, Kelvin Lee mengungkapkan, pihaknya sering menganggap vaksin sebagai perawatan untuk penyakit, tetapi tindakan tersebut tidak persis seperti itu.

Menurutnya, vaksin diberikan kepada orang yang sehat agar tidak sakit.

“Hal ini sangat berbeda dari mengembangkan obat-obat di mana seseorang sakit dan Anda berusaha untuk membuat pasien itu lebih baik. Dalam populasi yang sehat, Anda tidak ingin vaksin memiliki konsekuensi negatif,” ujar Lee.

Adapun tahap-tahap yang dilakukan oleh para peneliti. Pertama, para peneliti akan mempelajari virus dan berusaha menentukan jenis vaksin mana yang paling berhasil.

Ada beberapa jenis vaksin, beberapa memiliki sedikit virus hidup yang lemah yang memicu respons kekebalan protektif dalam tubuh Anda, tetapi tidak meyebabkan penyakit yang sebenarnya.

Sementara, beberapa mengandung virus tidak aktif yang menciptakan respons serupa di dalam tubuh. Dan beberapa menggunakan RNA atau DNA yang direkayasa secara genetika, yang membawa “arah” untuk membuat jenis protein yang dapat mencegah virus dari mengikat ke sel kita dan membuat kita sakit.

Begitu para peneliti memutuskan rute vaksin mana yang menurut mereka akan bekerja paling baik, mereka mulai menguji. “Di sinilah waktu benar-benar berperan, bahkan setelah Anda melakukan tes laboratorium untuk memastikan langkah itu bekerja,” ujar Lee.

2. Banyaknya pengujian keamanan dan studi lapangan

Ia menambahkan, dalam banyak kasus vaksin yang diuji pada hewan untuk memastikan bahwa vaksin itu akan aman bagi manusia dan memiliki respons yang diinginkan.

Dan kemudian, di mana tindakan-tindakan pengujian itu benar-benar mulai memakan waktu dalam uji klinis manusia. Untuk menggelar vaksin membutuhkan banyak pengujian keamanan.

Selama Fase 1, para peneliti mengambil sedikit relawan sehat dan menguji vaksin untuk efek samping yang serius. Fase 2, melibatkan studi yang lebih kecil yang melihat kemanjuran vaksin.

Hal ini termasuk mencari tahu dosis vaksin terbaik, penjadwalan dosis jika seseorang membutuhkan dosis banyak, dan banyak lagi.

Para ilmuwan akan mempertimbangkan apakah vaksin masih tampak cukup aman dan apakah respons imun atau penumpukan antibodi cukup bagus untuk menjamin melanjutkan ke studi klinis tambahan.

Dalam Fase 3, Anda akan melihat studi lapangan yang lebih besar. Di sini, para peneliti dapat mencari efek samping jangka pendek yang umum dan pada dosis apa efek samping tersebut muncul. Bahkan, vaksin yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA), masih butuh waktu untuk memproduksi dan mendistribusikannya secara massal di seluruh negeri.

Tujuannya adalah untuk memvaksinasi sejumlah besar orang.

3. Tahap pengujian dan pemantauan

Selanjutnya, fase 4, dilakukan pengujian dan pemantauan berlanjut bahkan setelah vaksin umumnya tersedia karena butuh waktu untuk memastikan keamanan.

Efek samping yang umum dari vaksin dapat terjadi kemerahan dan rasa sakit di tempat injeksi dan mungkin demam ringan, namun efek samping seperti kejang atau reaksi alergi sangat jarang terjadi. Tetapi, intinya adalah bahwa para ilmuwan dan dokter bertujuan untuk mengembangkan vaksin di mana manfaat perlindungan jauh lebih besar daripada risikonya.

Walaupun sulit untuk mengungkapkan kapan para peneliti akan memiliki vaksin yang layak, ada beberapa faktor yang dapat mempercepat waktu untuk vaksin virus corona ini. Pendekatan tradisional untuk membuat vaksin, seperti penggunaan telur ayam, terbukti tetapi tidak harus cepat.

“Anda memiliki beberapa teknologi baru yang dapat dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan, di mana mereka sudah siap merespons pandemi,” ujar Lee.

“Dari situ, Anda dapat mempersingkat beberapa penemuan dan jadwal pengembangan awal tersebut,” lanjut dia.

Menurut Lee, metode berbasis bioteknologi yang lebih baru, terkadang disebut “metode kultur sel,” bisa membuat perkembangan lebih cepat.

Selain itu, dengan pandemi yang mengelilingi dunia, para peneliti Amerika hampir tidak sendirian. Ada upaya global untuk menemukan vaksin yang layak.

“Anda punya perusahaan swasta dan ilmuwan yang mencoba bekerja sama dalam vaksin. Kolaborasi itu tentu dapat membantu mempercepat timeline,” kata Lee.

Para ilmuwan masih ingin meminimalkan risiko dan memastikan peluncuran vaksin yang paling aman.

“Tetapi mengingat wabah ini secara global dan dampaknya, saya bisa membayangkan ada cara untuk merancang uji coba untuk mempercepat pengujian vaksin,” imbuh dia.

Pengembangan tambahan dengan obat-obatan Selain uji coba vaksin, para peneliti sedang menguji perawatan potensial untuk Covid-19. Alih-alih mencegah penyakit, ini bertujuan untuk membuat orang sakit kembali sehat.

“Salah satu perawatan yang mendapat banyak perhatian adalah remdesivir, tetapi data yang tersedia sejauh ini cukup terbatas,” ucap Cutrell.

Sejauh ini belum ada uji coba yang membandingkan penggunaan obat antivirus dengan kelompok kontrol. Ada juga obat-obatan yang berpotensi mengatasi respons sistem kekebalan terhadap virus.

“Banyak pasien Covid-19 menjadi lebih parah kondisinya di minggu kedua, dan ini bukan virusnya, tetapi sistem kekebalan yang membuat mereka semakin sakit. Mereka mengalami kondisi peradangan yang berlebihan atau badai sitokin,” ujar Cutrell.

Beberapa obat yang mungkin mengurangi efek sistem kekebalan sedang dalam uji klinis. Lalu ada obat hydroxychloroquine yang sekarang kontroversial, yang telah lama digunakan untuk malaria atau kondisi peradangan seperti rheumatoid arthritis atau lupus.

Cutrell mengungkapkan, muncul kekhawatiran mengenai keamanan konsumsi hydrochloroquine, termasuk masalah jantung dan artimia.

Kendati begitu, FDA menyarankan masyarakat AS untuk tidak menggunakan hydroxychloroquine di luar pengaturan rumah sakit. Akhirnya, Covid-19 mungkin dapat diobati dengan plasma konvalesen.

Antibodi dan protein dalam plasma itu berpotensi membantu seseorang dengan Covid-19 pulih. Cutrell menambahkan, sampai kita memiliki vaksin atau perawatan yang berarti, para peneliti perlu melanjutkan dengan hati-hati, meningkatkan pengujian dan mengisolasi orang sakit dengan cepat jika kita berharap situasi kembali normal.

Tentu saja, negara-negara itu masih melihat gelombang kedua virus. “Pendekatan itu membutuhkan kewaspadaan yang konstan,” katanya lagi.

Redaksi
Redaksi Sabtu, 02 Mei 2020 18:25
Komentar