Logo Header

Megawati Kecolongan SBY 2 Kali, Andi Arief: Itu Kenyataan Sejarah Tak Perlu Ditangisi

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.com Jumat, 19 Februari 2021 14:37
Andi Arief
Andi Arief

TEBARAN.COM, JAKARTA – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat (PD) kembali memanas soal Megawati Soekarnoputri disebut kecolongan dua kali melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief, lewat halaman akun Twitter miliknya @andiarief_ mengatakan, Ketua Umum PDIP Megawati kecolongan dua kali melawan eks Ketua Umum Partai Demokrat SBY pada Pilpres 2004 adalah kenyataan sejarah.

“Kecolongan dua kali Ibu Megawati melawan SBY dalam Pilpres adalah kenyataan sejarah tak perlu ditangisi,” cuit Andi Arief, Jumat, 19 Februari 2021.

Menurut Andi, kecolongan itu melalui pilihan rakyat, bukan menjatuhkan melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).

“Toh, kecolongan melalui pilihan rakyat. Bukan melalui penghianatan menjatuhkan lewat MPR,” katanya.

Oleh karenanya, Andi meminta kepada Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto untuk tidak membubarkan kebenaran dan membenturkan PDIP dan Demokrat.

“Sebagai Sekjen, Hasto jangan membenturkan, tapi mendudukkan posisi yang benar,” tandasnya.

Dikutip Tempo, sebelumnya Eks Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Marzuki mengungkapkan pernyataan SBY yang mengatakan Megawati kecolongan dua kali saat Pilpres 2004. Kala itu Megawati mencalonkan sebagai presiden bersama Hasyim Muzadi sebagai wakilnya, namun kalah dari SBY-Jusuf Kalla.

SBY dan Kalla sama-sama menjabat menteri di kabinet yang dipimpin Megawati. SBY menjabat Menko Polkam namun mengundurkan diri menjelang Pilpres 2004. Adapun Jusuf Kalla menjabat Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra).

“Pak SBY nyampaikan, ‘Pak Marzuki, saya akan berpasangan dengan Pak JK. Ini Bu Mega akan kecolongan dua kali ini. Kecolongan pertama dia yang pindah. Kecolongan kedua dia ambil Pak JK. Itu kalimatnya,” kata Marzuki sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Akbar Faisal Uncensored, Kamis (11/2/2021).

Saat ditanya kembali oleh Akbar makna dari pernyataan kecolongan dua kali, Marzuki enggan membahas lebih lanjut.

Akbar lalu menanyakan kembali apakah pernyataan SBY itu berarti menunjukkan bahwa Presiden keenam RI itu memang sudah merencanakan sejak awal untuk mencalonkan diri sebagai presiden di Pilpres 2004.

Marzuki kembali enggan menjawab. Ia khawatir keliru menafsirkan pernyataan SBY tersebut.

“Saya enggak ngerti, enggak mau bahas terlalu jauh. Saya menangkap ucapan yang ada saja. Saya enggak mau nanti salah menafsirkan,” tutur Marzuki.

“Orang kecolongan dua kali bisa aja berarti sekarang saya berhenti (dari posisi menteri), nanti Pak JK berhenti (dari posisi menteri). Bisa dianggap dua kali. Silakan, persepsi orang beragam,” lanjut Marzuki.

Sebelumnya juga Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto telah menanggapi pernyataan Marzuki Alie soal Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang disebut kecolongan dua kali di Pilpres 2004.

Menurut Marzuki, eks Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) yang mengatakan bahwa Megawati kecolongan dua kali pada Pilpres 2004.

Hasto menilai pernyataan SBY itu justru menunjukkan bahwa eks Ketua Umum Demokrat itulah yang menciptakan desain pencitraan seolah ia sebagai Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) dizalimi Megawati yang masih menjabat sebagai Presiden kelima RI.

Saat itu berembus isu SBY merasa dizalimi Megawati sehingga ia memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam.

“Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah ‘kecolongan dua kali’ sebagai cermin moralitas tersebut,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Rabu, 17 Februari 2021.

“Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizalimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” tutur Hasto.

Hasto mengatakan cerita yang diungkapkan Marzuki justru membuka tabir sejarah sesungguhnya bahwa Megawati tak pernah menzalimi SBY.

“Padahal tahun 2004, publik masih segar mengingat bahwa SBY yang bertindak sebagai seakan-akan sebagai sosok yang dizalimi,” lanjut Hasto.

Saat itu berembus isu SBY merasa dizalimi Megawati sehingga ia memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam.

“Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah ‘kecolongan dua kali’ sebagai cermin moralitas tersebut,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Rabu, 17 Februari 2021.

“Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizalimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” tutur Hasto.

Hasto mengatakan cerita yang diungkapkan Marzuki justru membuka tabir sejarah sesungguhnya bahwa Megawati tak pernah menzalimi SBY.

“Padahal tahun 2004, publik masih segar mengingat bahwa SBY yang bertindak sebagai seakan-akan sebagai sosok yang dizalimi,” lanjut Hasto.

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.com Jumat, 19 Februari 2021 14:37
Komentar