Logo Header

Oleh: Hamdan Juhannis

Superhero dalam Cerita Nyata

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comRabu, 03 Februari 2021 14:09
Superhero dalam Cerita Nyata

SAAT saya mengajak seorang teman, yang juga seorang sosok, untuk secepatnya pergi mencari peluang vaksinasi, jawaban teman itu sungguh menunjukkan kelas, bahwa vaksinasi sekarang diprioritaskan untuk tenaga Kesehatan (Nakes). Giliran kita sebagai masyarakat umum adalah berikutnya, setelah para Nakes sudah terjangkau.

Dia mengajak saya bersabar sambil menjaga imun tubuh, dan katanya, jangan ada di antara kita yang mencoba mengambil satu tetes vaksin pun yang diperuntukkan para Nakes. Karena dia tahu saya selalu menghirup uap panas, dia meminta saya untuk lanjutkan menghirup uap sambil menunggu giliran tiba.

Coretan saya ini adalah setitik kecil tentang empati terhadap Nakes yang selama ini sering didengungkan. Coretan ini mungkin tidak pernah bisa mengisi celah terhadap ruang besar pengorbanan para Nakes berhadapan dengan wabah covid ini. Bahkan begitu seringnya disajikan data tentang penambahan jumlah dokter yang meninggal dan menjadi tumbal dari keganasan covid 19, membuat ada gejala munculnya ketumpulan empati terhadap pengorbanan mereka.

Gejala tumpulnya empati tidak boleh hinggap sejenakpun di benak kita. Kita semua sepakat untuk tidak ingin pergi ke rumah sakit bertemu para Nakes karena kita terinfeksi covid, tapi apakah para Nakes itu merasa senang saat harus berjibaku dengan pasien covid setiap saat? Para Nakeslah menjadi kelompok pertama yang selalu menyerukan untuk menjaga Prokes karena semakin kita sehat di rumah, semakin bahagia mereka di rumah sakit.

Mungkin juga ada yang berfikir bahwa itu adalah konsekuensi profesi. Mohon jangan pernah membiarkan pikiran itu menggelayut, karena semua yang hidup juga pasti memiliki konsekuensi, mengalami sakit atau pastinya mengalami kematian. Yang saya tahu, saat mereka mengangkat sumpah, hanya satu yang terpatri dalam benak mereka, berbuat apa saja untuk menyelematkan kehidupan.

Bahkan saya pernah mendengar ulasan sepintas dari seorang dokter senior, salah satu masalah kesehatan terbesar dari para Nakes dengan pakaian hazmat yang membaluti tubuhnya selama berjam-jam saat bertugas di medan covid adalah mereka tidak bisa menghirup oksigen dengan bebas dan banyaknya karbon dioksida yang sudah dilepaskan dihirup kembali. Secara awam, pelajaran kimia dasar kita dapat bahwa karbon dioksida itu mengandung racun dan itulah mengapa Nabi mencegah kita untuk tidak meniup makanan yang biasanya dilakukan untuk mendinginkannya.

Mereka pasti tahu efek dari terbatasnya udara segar yang mereka hirup, karena mereka dokter atau paramedis. Namun mereka hanya menunda hadirnya efek buruk itu untuk mempertahankan diri dari infeksi covid yang mengintai setiap saat di sekitarnya. Jadi ketika begitu banyak Nakes yang tumbang karena situasi covid, kita akan semakin tahu seperti apa resiko besar pekerjaan yang dihadapi dengan pandemi ini.

Tidaklah berlebihan pesan moral yang sangat dalam ketika sebuah karitakatur beredar dengan berbarisnya para superhero (Iron Man, Superman, Batman, Spiderman, Hulk, dan lain-lain yang saya tidak hafal) dalam cerita film produksi Marvel, mereka sambil membungkuk memberi penghormatan kepada para Nakes yang baru lewat di sebuah koridor rumah sakit. Maknanya apa, mereka bukanlah siapa-siapa dibanding keberanian para Nakes dalam aksi penyelematan. Mereka hanyalah superhero dalam cerita fiksi, tapi superhero dalam cerita nyata adalah para Nakes masa pandemi ini.

Jadi kalau sekadar untuk bersabar menunggu vaksin karena diprioritaskan pada Nakes, itu bukanlah sebuah pengorbanan, tapi secuil kesadaran untuk memahami pengorbanan besar mereka. Dan yang mungkin bisa dianggap sebagai pengorbanan, saat kita bisa melakukan apa saja di luar, khususnya bagi yang sehat untuk mengontrol laju penyebaran covid, karena itu membantu para Nakes melepaskan diri dari belenggu hazmat sebagai tanda bahwa mereka sudah bekerja secara normal. Dan kalau ingin merasakan siapa yang menjalankan jihad (perang suci atau perang di jalan Tuhan) pada era pandemi ini, sederhana. Silahkan merenungi perjuangan para Nakes saat mengurus pasien covid.

Penulis adalah Rektor UIN Alauddin Makassar dan juga penulis buku ‘Melawan Takdir’

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comRabu, 03 Februari 2021 14:09
Komentar