Logo Header

Bandingkan FPI dan NU-Muhammadiyah, Pandji Pragiwaksono: Mohon Maaf, Tapi…

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comRabu, 20 Januari 2021 22:08
Bandingkan FPI dan NU-Muhammadiyah, Pandji Pragiwaksono: Mohon Maaf, Tapi…

TEBARAN.COM, JAKARTA – Aktor dan komedian Pandji Pragiwaksono menyampaikan permohonan maafnya terkait pernyataannya yang membandingkan peran FPI, NU dan Muhammadiyah di masyarakat.

“Mohon maaf,” kata Pandji Pragiwaksono mengomentari cuitan Muannas Alaidid di Twitter Rabu 20 Januari 2021.

Meski demikian, Panji juga memperjelas bahwa pernyataannya itu bukan dari dirinya tapi mengutip ucapan dari seseorang sosiologi, Thamrin Tomagola.

“Tapi blom ditonton ya sumber video yg dijadikan kutipan? Saya blg bahwa Itu ucapan sosiolog, Pak Thamrin Tomagola waktu saya interview beliau di Hard Rock FM Jakarta awal 2012,” jelasnya.

Sebelumnya Muannas Alaidid menanggapi pernyataan Panji soal membandingkan FPI, NU dan Muhammadiyah di akun Twitter miliknya, dan kemudian dikomentari Panji.

“Mengkalr pernyataan Jadilah komedian yg baik, jgn komentarin & menghukumi sesuatu yg anda @pandji tdk ketahui, Dzolim anda. NU & Muhammadiyah berjasa dlm mencerdaskan kehidupan bangsa & membantu masy. saran sy unt para pembohong & pengadu domba sebaiknya MINTA MAAF kpd ke 2 ormas islam terbesar tsb,” tulis Muannas Alaidid beberapa waktu lalu.

Terkait pernyataan Panji, sebelumnya ia membahas soal pembubaran Front Pembela Islam (FPI) yang dilakukan pemerintah dinilai tidak tepat. Sebab akan muncul para simpatisan FPI dengan bentukan ormas yang berbeda.

Pandji menyampaikan itu ketika berdiskusi secara virtual dengan dua mantan anggota FPI di chanel YouTubenya seperti dikutip, Rabu 20 Januari 2021.

Pandji Pragiwaksono mengatakan, di masyarakat ada banyak para simpatisan FPI. Terlebih lagi di kalangan bawah. Itu karena FPI selalu ada ketika masyarakat kalangan bawah meminta bantuan. Menurut Pandji Pragiwaksono, pendapat itu dia dengar dari Sosiolog Thamrin Amal Tomagola.

“FPI itu dekat dengan masyarakat. ini gue dengar dari Pak Thamrin Tomagola, dulu tahun 2012, kalau misalnya ada anak mau masuk di sebuah sekolah, kemudian ga bisa masuk, itu biasanya orang tuanya datangi FPI minta surat. Dibikinin surat ke FPI, dibawa ke sekolah, itu anak bisa masuk, terlepas dari isi surat itu menakutkan atau tidak, tapi nolong warga gitu,” ujar Pandji.

Pandji melanjutkan, FPI terkenal dan disukai di masyarakat kalangan bawah ketika para elit dari ormas Islam besar, yakni Nahdaul Ulama (NU) dan Muhammadiyah jauh dari masyarakat.

“FPI itu hadir gara-gara dua ormas besar Islam (NU dan Muhamamdiya) jauh dari rakyat. Mereka elit-elit politik. Sementara FPI itu dekat. Kalau ada yang sakit, ada warga yang sakit mau berobat, ga punya duit, ke FPI, kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang FPI ngasih surat. suratnya dibawa ke dokter jadi diterima,” ungkap Pandji.

Pandji melanjutkan, menurut Tamrin Tomagola, pintu ulama-ulama dari kalangan FPI selalu terbuka untuk membantu masyarakat yang sedang kesusahan. Sementara NU dan Muhammadiyah, terlalu elitis, sehingga masyarakat enggan untuk mendekat.

“Kata Pak Tamrin Tomagola, pintu rumahnya ulama-ulama FPI kebuka untuk warga, jadi orang kalau mau datang bisa. Nah, yang NU dan Muhammadiyah yang terlalu tinggi dan elitis, warga tuh ngga kesitu, warga justru ke FPI. Makanya mereka pada pro FPI, karena FPI ada ketika mereka butuhkan,” ungkap pria 41 tahun ini.

Pandji bilang, bubarkan FPI bukan sebuah solusi yang tepat. Dia mengatakan, jika pemerintah tidak mau melihat FPI eksis, maka harus menyelesaikan masalah sosial lingkungan.

“Makanya gue bilang, bubarin FPI itu gampang tapi ga menyelesaikan masalahanya karena FPI menyediakan bantuan ketika rakyat lagi butuh selama elu ga kasi bantuan ketika rakyat lagi butuh, maka rakyat akan cari ormas lain untuk dapat bantuan,” ucap Pandji.

“Jadi kalau lu ga mau ormas itu tamba gede, tambah kekuatan, ya elu harus bisamenyelesaikan masalah sosial di lingkungan elu. Karena ketidak kepedulian lu terkaitpemasalahan sosial, akan berbalik dalam bentuk pemaslahan sosial lagi,” latanya lagi.

“Yang gampang adalah bubarin ormas, yang susah adalah peduli sama masyaraklatsekitar,” tutup Pandji.

Seperti diketahui, pemerintah resmi membubarkan organisasi Front Pembela Islam (FPI) pada Rabu 30 Desember 2020. Segala bentuk aktifitas FPI juga dilarang karena dianggap ilegal.

Penulis : Ridwan
Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comRabu, 20 Januari 2021 22:08
Komentar