Logo Header

Tolak Divaksin, Teddy Gusnaidi Anggap Politikus PDIP Ribka Tak Update dan Salah Baca Berita

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comJumat, 15 Januari 2021 07:42
Tolak Divaksin, Teddy Gusnaidi Anggap Politikus PDIP Ribka Tak Update dan Salah Baca Berita

TEBARAN.COM, JAKARTA – Politikus Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi menanggapi sikap Anggota DPR dari Fraksi PDIP Ribka Tjiptaning yang menolak disuntik vaksin Covid-19.

Teddy Gusnaidi mengganggap politikus seniror PDIP itu punya alasan menolak untuk disuntik vaksin Covid-19 yang diprogramkan pemerintah.

“Bu Ribka Tjiptaning menolak di vaksin, tentu ada alasannya, gak mungkin beliau menolak tanpa ada alasan. Saya coba membaca alasan beliau di media. Dari sekian banyak alasan, intinya ternyata beliau tidak mau di vaksin karena menurut beliau Bio Farma belum uji klinis ke tiga,” kata Teddy di Twitter, Kamis, 14 Januari 2021.

Teddy menilai uji klinis ke tiga itu merupakan uji kelanjutan karena pengujian sebelumnya baik dan beberapa negara menganggap itu aman.

Dia mengatakan meski ada efek samping tapi tidak berbahya dan cepat pulih. Kemudian untuk secara prosentase pun hanya 0,1-1%.

“Tahap 3 itu apa sih? tahap internal utk memastikan efektivitas & keamanan vaksin, karena setelah mendapatkan izin produksi dari BPOM maka Bio Farma wajib menjaga mutu dari vaksin yg diproduksi. Itu tahap 3, dimana menguji vaksin yg telah didistribusikan sblmnya ke 34 provinsi,” jelasnya.

Kemudian Teddy menjelaskan dengan menganalogikan seperti mie instan yang dipasarkan pastinya bumbunya sudah teruji dan sudah lolos BPOM.

“Analoginya begini, saya buka warung mie instan. Mie instan ini sudah ada bumbunya, bumbunya ini tdk perlu saya teliti lagi sebelum saya jualan, karena sudah lolos BPOM. Tidak mungkin saya bisa jualan mie instan kalau tidak lolos BPOM. Begitupun Bio farma, tidak akan produksi,” ucapnya.

“Karena saya sudah jualan, maka saya harus memeriksa bahwa mie instan yg disajikan ke pelanggan, bumbunya dimasukin semua, bukan setengah. Dan jgn sampai mie direbus terlalu lembek, karena tdk disukai oleh pelanggan. Ini lebih ke proses penyajian bukan soal kualitas bumbunya,” sambung.

Kalau soal bumbunya, kata dia sudah lolos dari BPOM sehingga tidak berbahaya, ini masalah menjaga kualitas rasa & penyajian. Jika bumbunya dipakai full maka sesuai rasanya, jika tidak dipakai full, maka rasanya tidak sesuai, tapi tidak membahayakan, karena bumbunya memang tidak berbahaya.

“Nah Bu Ribka tidak mau disuntik vaksin karena menunggu hasil penelitian warung mie instan terhadap bumbu mie instan, apakah bumbu itu berbahaya atau tidak? Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi, karena yang melakukan penelitian itu BPOM bukan warung dagang mie instan,” bebernya.

Jadi menurut Teddy, Itu hanya tahapan untuk mendapatkan izin edar selanjutnya setelah sebelumnya mengedar 700 ribu vaksin. Kalau vaksin itu berbahaya, tentu Bio Farma tidak disuruh memproduksi dan mengedarkan. Karena Vaksin ini sudah lolos dari BPOM dan WHO, jadi ini bukan proses dari nol.

“Mungkin Bu ribka kurang update dan salah baca berita, sehingga beliau menunggu hasil penelitian warung mie instan terkait bumbu mie instan. Padahal bumbu itu sudah lolos dari penelitian dan tidak berbahaya. Harus ada yg ingatkan beliau, agar supaya beliau paham,” tandanya.

Penulis : Ridwan
Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comJumat, 15 Januari 2021 07:42
Komentar