Logo Header

Guru Besar UHO: Inilah Sembilan Figur yang Diprediksi akan Maju Pilgub Sultra 2023

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comMinggu, 03 Januari 2021 10:49
Guru Besar UHO: Inilah Sembilan Figur yang Diprediksi akan Maju Pilgub Sultra 2023

TEBARAN.COM, SULTRA – Pengamat politik Sulawesi Tenggara (Sutra) Prof Eka Suaib menyebut sembilan figur yang diprediksi bakal bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sultra 2023 mendatang.

Mereka adalah Lukman Abunawas (Wakil Gubernur Sultra), Kery Saiful Konggoasa (Bupati Konawe), La Ode Ida (Mantan Wakil Ketua DPD RI), Umar Samiun (Mantan Bupati Buton), Abdurahman Saleh (Ketua DPRD Sultra).

Kemudian nama lainnya yang diperidiksi yaitu Ridwan Bae (DPR RI) Thamrin (Walikota Bau Bau) dan Tafdil (Bupati Bombana) dan Bahtiar Maddatuang (Akademisi).

Dosen politik Universitas Halu Oleo ini membaca peta politik kekuatan bakal calon nantinya dengan berdasarkan perolehan suara hasil Pemilu legislative 2019.

Kursi di DPRD memunculkan 5 kekuatan politik dominan. Yakni PAN dengan 8 kursi, Golkar 7 kursi, Demorkat 5 kursi, PDI Perjuangan dengan 5 kursi dan Nasdem 5 kursi.

Selebihnya yaitu PKS 4 kursi dan Gerindra masing-masing 4 kursi. PKB yakni 3 kursi, PPP yakni 2 kursi. Sementara itui, PBB dan Hanura mengirim masing-masing 1 kursi.

“Dari perolehan tersebut, tidak ada partai yang betul-betul ‘aman’ dalam pengajuan calon. Soalnya untuk bisa mengajukan calon, maka minimal memenuhi 9 kursi,” ungkap Prof Eka Suaib, Sabtu 2 Januari 2021

Artinya, lanjut Suaib bahwa partai politik harus melakukan koalisi karena dalam konteks ini tidak ada parpol yang memenuhi syarat 20 % untuk mengusung calon.

“Syarat pencalonan adalah yakni jumlah kursi DPRD hasil pemilu terakhir dikalikan 20%. Jumlah maksimal kursi di DPRD adalah 45 x 20 bagi 100 yakni 9 kursi,” katanya.

Melihat itu, lanjut Suaib, maka ada 5 papan atas untuk pengajuan calon yakni PAN, Golkar, Demokrat, PDI Perjuangan dan Nasdem.

“Menjadi pertanyaan, siapa yang akan berkoalisi, dengan siapa. Tidak ada satu figur yang mendominasi proses pencalonan, sehingga elite Parpol harus berkompromi,” katanya.

Menurut Suaib pada momen Pemilu Gubernur sebelumnya, belum pernah terjadi 5 pasang calon, seperti pada Pilgub 2005-2010, jumlah pasang calon ada 4 pasang, pada 2010-2015 ada 3 pasang calon, dan Pilgub 2018 ada 3 pasang calon.

Jika seperti itu, maka tidak akan berubah dengan pola koalisi seperti Pilgub yang lalu. Yakni koalisi variatif dengan orientasi hanya pada kemenangan calon yang diusung. Kencederungan itu terjadi, karena hanya berdasarkan ukuran jumlah partai dan kursi partai.

Kemudian calon yang potensial untuk diusung oleh Parpol adalah mereka yang memiliki elektabilitas tinggi karena Parpol akan senang mengusung calon yang memiliki tingkat elektabilitas bagus.

“Bisa dilihat pada pengalaman kemunculan Ali Mazi saat Pilgub yang lalu, dengan berhasil memanfaatkan pintu Golkar. Padahal saat itu, Ridwan BAE masih menjabat sebagai Ketua Golkar dan dekat dengan Setyo Novanto,” ungkap Eka Suaib.

Kemudian calon yang memiliki kemampuan menampilkan jejak rekam melalui posisi dan peran yang sudah pernah dilakukan. Jadi, ada kontestasi popularitas calon, perlu untuk diperhatikan bahwa siapapun calon yang akan diusung nanti diharapkan untuk menampilkan.

“Hanya, saja perlu diingat saat ini ada proses nominasi pencalonan terdapat watak Parpol yang oligarkis, terpusat. Jadi, bisa saja meski calon Gubernur potensial tetapi tidak mendapat restu dari pimpinan Parpol, maka sulit ia akan melenggang. Apalagi penentuan akhir, yakni berada di tangan Pengurus Pusat,” bebernya.

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comMinggu, 03 Januari 2021 10:49
Komentar