Tebaran.com

Ketua Forum Peduli Pertanian: Feri Amsari Tidak Layak Jadi Dosen, Terima Gaji Tapi Tidak Ngajar, Korupsi

TEBARAN.COM,JAKARTA – Ketua Forum Peduli Bangsa Bidang Pertanian, Muh Syarif Hidayat SH CMd CLA, menyampaikan pernyataan keras terkait pengamat Feri Amsari.

“Sebelum Anda layak mengkritik negara, layakkah Anda dulu di depan mahasiswa Anda sendiri?” kata Syarif Hidayat dalam pernyataan yang diterima, Rabu (28/10/2026).

Feri Amsari adalah dosen hukum tata negara Universitas Andalas. Dia kerap melontarkan kritik di luar bidang keilmuannya, termasuk mengkritik pemerintah dan masalah pertanian, dengan data yang minim.

Belakangan, Feri Amsari mendapat sorotan tajam dari banyak kalangan karena dianggap hanya bisa mengkritik kinerja pemerintah tetapi tidak bisa melihat pada kinerjanya sendiri sebagai dosen.

*Jangan Bicara Tanpa Ilmu*

Syarif Hidayat yang juga Ketua Umum Yayasan Pendidikan PATRA Surabaya, memulai pernyataanya dengan kalimat: “Izinkan saya berkata terus terang dan agak keras, karena ini soal marwah ilmu”.

Hal pertama yang disampaikan Syaruf Hidayat kepada Feri Amsari adalah “Jangan Bicara Tanpa Ilmu.”

Allah SWT berfirman:”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS Al-Isra: 36).

“Anda mengkritik Kementerian Pertanian sampai ke tingkat fitnah tanpa data yang jelas. Dalam Islam, itu bukan kritik, namanya buhtan atau membuat-buat dusta,” kata Syarif Hidayat.

Syarif Hidayat juga mengutip hadits Rasulullah SAW: “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.”

“Gelar akademik Anda yang tinggi jadi tidak ada harganya kalau lisan anda gemar memfitnah,” ujarnya.

“Sampai-sampai ada yang mengatakan Feri Amsari tidak layak jadi dosen, sering meninggalkan kampus tetapi terima gaji, berarti koruptor. Yang di korupsi waktunya. Bagaimana kalau jadi menteri beneran?” kata Syarif Hidayat.

“Gaya-gayaan jadi menteri bayangan, sudah berani korupsi. Kan jadi tidak elok kalau kenyataan nya seperti ini,” lanjutnya.

*Jangan Jadi Pencuri Waktu*

Hal kedua yang disampaikan Syarif Hidayat kepada Feri Amsari adalah “Jangan Jadi Pencuri Waktu.”

“Anda digaji untuk mengajar. Mahasiswa adalah amanah di pundak anda. Anda tinggalkan kelas demi panggung sebagai aktivis ke sana-kemari. Dalam Fiqih, itu namanya khianat amanah dan memakan harta secara batil,” kata Syarif Hidayat.

Dia kemudian melanjutkan, “Anda menuntut pemerintah bekerja bagus, tapi Anda sendiri tidak bekerja bagus. Menjadi teladan saja Anda tidak mampu, tapi ringan ucap mengkritik orang lain,” paparnya.

Hal ini, kata Syarif Hidayat, persis seperti yang diingatkan Imam Ja’far Shadiq As, guru dari para mmam mahdzab, yakni “Jadilah penyeru kebaikan dengan perbuatanmu, bukan hanya dengan lisanmu.”

*Ngilo Githokmu Dewe*

Hal ketiga yang disampaikan Syarif Hidayat kepada Feri Amsari adalah “Ngilo Githokmu Dewe.”

Kata dia, peribahasa Jawa bilang “Tuma di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”

“Anda sibuk melihat debu di Kementerian Pertanian yang kerjanya sudah nyata untuk swasembada pangan, tapi Anda tidak melihat gunung kelalaian anda sendiri yang meninggalkan mahasiswa,” katanya.

“Telunjukmu senang menunjuk orang, tapi empat jarimu menunjuk diri sendiri. Harusnya koreksi diri dulu, hai orang pintar,” tambahnya.

Jadi, kata Syarif Hidayat, sebelum Anda layak mengkritik negara, layakkah Anda dulu di depan mahasiswa anda sendiri?

“Kritik itu mulia jika dengan ilmu dan adab. Tapi jika tanpa data, tanpa hadir mengajar, dan hanya mencari panggung, itu bukan intelektual, itu hanya kebisingan,” tegasnya.

“Mari kembali jadi dosen yang benar. Didik mahasiswa, baru didik pemerintah,” pesan Syarif Hidayat.*

Exit mobile version