TEBARAN.COM,MAKASSAR — Sebanyak 3.200 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai instansi pusat, pemerintah provinsi, hingga kabupaten/kota di seluruh Indonesia mengikuti Webinar ASN Adaptif Seri Ke-68 yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (1/10/2026).
Mengusung tema “Building Integrity: Berani Menolak Gratifikasi”, forum virtual via Zoom dan YouTube BPSDM Sulsel ini berfokus pada penguatan benteng moral serta pencegahan praktik koruptif di sektor pelayanan publik.
Kepala BPSDM Sulsel, Prof. Muhammad Jufri, menegaskan pentingnya menjaga kualitas moral aparatur dalam melayani masyarakat. Mengutip filosofi dari pakar hukum Jimly Asshiddiqie, ia membagikan resep sederhana menjaga integritas.
“Ambil hakmu jangan melebihi dari yang semestinya dan lakukan kewajibanmu tidak kurang dari apa yang semestinya. Jika ini konsisten dilakukan, kita akan menjadi pribadi yang berintegritas,” ungkap Jufri.
Beda Thin Gratifikasi, Suap, dan Pemerasan
Sesi edukasi menghadirkan dua narasumber pakar dari BPSDM Sulsel. Widyaiswara Ahli Madya, Harifuddin, menyoroti pentingnya keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, setiap pemberian yang diterima ASN karena jabatan berpotensi memicu konflik kepentingan (conflict of interest).
“ASN harus berani menolak atau melaporkan penerimaan tersebut ke Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) atau KPK paling lambat 30 hari kerja sejak diterima,” tegas Harifuddin.
Di sisi lain, narasumber kedua, Muhammad Jayadi, membedakan secara tegas antara gratifikasi, suap, dan pemerasan. Pemerasan, menurutnya, merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang disertai paksaan atau tekanan untuk keuntungan sepihak.
“Pemerasan bukan sekadar pelanggaran aturan, tapi korupsi yang merusak keadilan publik. Celah ini bisa ditutup dengan transparansi, akuntabilitas, dan percepatan digitalisasi layanan agar tidak ada modus penundaan dokumen,” terang Jayadi.
Keteladanan Baharuddin Lopa
Webinar yang diwarnai diskusi interaktif seputar dilema etika ASN di lapangan ini ditutup dengan penguatan nilai keteladanan. Prof. Muhammad Jufri mengakhiri sesi dengan membagikan kisah inspiratif sosok pendekar hukum legendaris, Baharuddin Lopa, sebagai cermin kejujuran bagi seluruh peserta. (*)
