TEBARAN.COM,JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mempertegas komitmennya untuk bermutasi menjadi korporasi agribisnis modern yang profesional, adaptif, dan berdaya saing global. Langkah strategis ini ditempuh melalui penguatan tata kelola, digitalisasi menyeluruh, manajemen risiko yang solid, serta optimalisasi aset guna menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi negara.
Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, menyatakan bahwa tanggung jawab yang diembannya jauh melampaui sekadar mengelola perkebunan. Fokus utamanya adalah mengawal roda transformasi organisasi agar siap menerjang tantangan bisnis masa depan.
”Amanah ini adalah memimpin proses transformasi organisasi agar PTPN I menjadi perusahaan yang semakin modern, profesional, adaptif, dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara,” ujar Abdul Rivai Ras dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Menjawab Tantangan Global
Menurut Rivai, lanskap industri perkebunan saat ini sedang dihantam berbagai disrupsi global, mulai dari perubahan iklim, derasnya arus digitalisasi, ketatnya kompetisi pasar internasional, hingga tuntutan tata kelola yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, keberhasilan PTPN I tidak lagi hanya diukur dari produktivitas lahan, melainkan dari kelincahan korporasi dalam beradaptasi.
”Persoalan yang kita hadapi bukan hanya bagaimana mengelola kebun atau meningkatkan hasil panen. Tetapi bagaimana membangun korporasi negara yang mampu beradaptasi terhadap perubahan global,” cetusnya.
5 Pilar Utama Transformasi PTPN I
Guna mewujudkan visi tersebut, Abdul Rivai Ras membeberkan lima pilar utama yang menjadi motor penggerak transformasi perusahaan:
1.Penguatan Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance)
2.Manajemen Risiko yang Solid
3.Digitalisasi Terintegrasi
4.Optimalisasi Aset Strategis
5.Peningkatan Daya Saing Bisnis
Bagi PTPN I, tata kelola yang bersih dan transparan merupakan fondasi mutlak untuk meraih kepercayaan para pemangku kepentingan (stakeholders). “Semakin besar organisasi, semakin besar pula tanggung jawab tata kelolanya. Seluruh proses bisnis harus berjalan transparan, akuntabel, disiplin, dan berbasis manajemen risiko,” tegas Rivai.
Perkuat Manajemen Risiko dan Implementasi ESG
Sebagai langkah konkret mitigasi, PTPN I kini membentuk Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko. Unit ini dirancang untuk mempertegas benteng pertahanan perusahaan dari fluktuasi harga komoditas, dampak perubahan iklim, regulasi global, hingga penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
”Perusahaan tidak bisa hanya berpikir mengenai laba. Perusahaan juga harus mampu mengelola risiko secara sistematis agar keberlanjutan usaha tetap terjaga,” tambahnya.
Revolusi Digital dan Optimalisasi Aset
Di sisi lain, PTPN I menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan perombakan budaya kerja (cultural shift). Digitalisasi didorong untuk mempercepat pengambilan keputusan dan mendongkrak produktivitas.
Menutup keterangannya, Rivai memastikan seluruh aset yang dimiliki PTPN I akan dikelola secara maksimal demi menggenjot nilai ekonomi.
”Digitalisasi mengubah cara bekerja, budaya organisasi, dan pengambilan keputusan. Aset harus menghasilkan nilai ekonomi sebesar-besarnya bagi perusahaan dan negara, sekaligus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat,” pungkasnya. (*)
