Logo Header

Groundbreaking DI Bontonyeleng, Gubernur Sulsel Perkuat Infrastruktur Irigasi untuk Ketahanan Pangan

Nuri
Nuri Kamis, 18 Juni 2026 19:48
Groundbreaking DI Bontonyeleng, Gubernur Sulsel Perkuat Infrastruktur Irigasi untuk Ketahanan Pangan

TEBARAN.COM,BULUKUMBAGubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Bontonyeleng di Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Kamis (18/6/2026).

Dimulainya pembangunan tersebut turut disaksikan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel Astina Abbas, para kepala desa, serta tokoh masyarakat tani setempat.
Andi Sudirman menjelaskan, rehabilitasi DI Bontonyeleng merupakan bagian dari Paket 1 Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan total anggaran mencapai Rp93 miliar. Program ini dirancang secara terintegrasi untuk memperkuat infrastruktur pengairan di empat kabupaten.

Khusus di Kabupaten Bulukumba, Pemprov Sulsel mengalokasikan anggaran sebesar Rp16,5 miliar untuk merehabilitasi tiga daerah irigasi utama, yakni DI Bontonyeleng, DI Bettu, dan DI Bongki-Bongki.“Untuk Bulukumba, ada tiga daerah irigasi yang direhabilitasi dengan anggaran Rp16,5 miliar. Ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah,” ujar Andi Sudirman.

Secara keseluruhan, rehabilitasi jaringan irigasi dibagi dalam beberapa paket strategis. Paket 1 senilai Rp93 miliar mencakup wilayah Maros, Gowa, Bulukumba, dan Sinjai. Sementara Paket 2 difokuskan pada kawasan Bone, Soppeng, dan Wajo sebagai sentra produksi pangan, sedangkan Paket 4 menjangkau wilayah Luwu Raya dan Toraja yang pengerjaannya telah dimulai lebih awal di Kabupaten Luwu Utara.

Menurut Andi Sudirman, rehabilitasi ini menjadi kebutuhan mendesak mengingat banyaknya titik kebocoran dan rembesan pada saluran utama maupun sekunder yang menyebabkan berkurangnya debit air sebelum mencapai areal persawahan.

Melalui pembangunan konstruksi baru, kapasitas layanan irigasi diproyeksikan meningkat hingga 65 persen. Proyek tersebut diharapkan mampu menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan bagi sekitar 1.200 hektare lahan persawahan aktif.

“Jika distribusi air berjalan optimal tanpa kebocoran, indeks pertanaman petani akan meningkat. Ini adalah bentuk kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan air bagi petani, khususnya di wilayah hilir. Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan proyek ini agar selesai tepat waktu dan memiliki kualitas yang baik,” tutup Andi Sudirman. (*)

Nuri
Nuri Kamis, 18 Juni 2026 19:48
Komentar