Langkah Nyata BPOM: Sertifikasi, Pendampingan, dan Ekspor untuk UMKM Pangan Indonesia
TEBARAN.COM,JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan olahan melalui kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Registrasi Produk dan Sertifikasi Sarana Produksi Pangan Olahan bagi Pelaku Usaha UMKM serta Kick Off Bulan Keamanan Pangan 2026. Kegiatan ini menjadi momentum strategis yang menggabungkan tiga agenda penting, yakni keberpihakan kepada UMKM pangan olahan, peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day/WFSD) 2026, serta penyerahan nomor izin edar dan sertifikat untuk mendukung ekspor produk pangan Indonesia.
Kepala BPOM RI Prof. Dr. Taruna Ikrar menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang terbukti mampu bertahan dalam berbagai krisis ekonomi. Hingga Maret 2026, sekitar 82 persen dari lebih dari 15 ribu perusahaan pangan olahan yang terdaftar di BPOM merupakan UMKM. Karena itu, peningkatan kapasitas, produktivitas, dan daya saing UMKM menjadi salah satu prioritas dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.
“UMKM adalah aset bangsa yang memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional. BPOM hadir untuk memastikan UMKM mendapatkan pendampingan yang memadai agar mampu memenuhi standar keamanan dan mutu produk serta memiliki daya saing hingga tingkat global,” ujar Taruna Ikrar.
Sebagai bentuk keberpihakan kepada UMKM, BPOM terus menghadirkan berbagai program fasilitasi, antara lain asistensi regulatori, bimbingan teknis, coaching clinic, layanan konsultasi, bantuan pengujian produk, keringanan biaya perizinan, hingga Program Orang Tua Angkat (OTA) UMKM. Biaya registrasi produk bagi usaha mikro dan kecil produsen dalam negeri bahkan diberikan secara gratis. Sejak tahun 2022, BPOM telah mendampingi 4.165 UMKM pangan olahan di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, sebanyak 29 industri pangan telah berkomitmen menjadi Orang Tua Angkat bagi 471 UMKM pangan olahan.
Pada kesempatan yang sama, BPOM juga memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia atau World Food Safety Day (WFSD) yang diperingati setiap tanggal 7 Juni. Tahun ini, tema global yang diangkat oleh FAO dan WHO adalah “From Burden to Solutions – Safe Food Everywhere”. Tema tersebut menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sebagai konsumen.
Menurut Taruna Ikrar, keamanan pangan tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan pasar dan daya saing produk nasional. Oleh karena itu, BPOM terus memperkuat sistem pengawasan pangan dari hulu hingga hilir melalui sinergi lintas sektor, pelayanan publik yang inklusif, serta berbagai program edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Dalam rangkaian kegiatan ini, BPOM secara resmi meluncurkan Bulan Keamanan Pangan 2026 dan program Registrasi pangan olahan Siap Jemput Bola (GASPOL SI JEMPOL) yang memberikan sosialisasi serta pendampingan registrasi produk dan sertifikasi sarana produksi bagi UMKM pangan olahan di berbagai daerah.
Momentum ini juga ditandai dengan penyerahan berbagai sertifikat dan izin kepada pelaku usaha, termasuk Nomor Izin Edar (NIE), Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP CPPOB), Izin Penerapan Program Manajemen Risiko (IP PMR), serta Shipment Specific Certificate (SSC) untuk mendukung ekspor. Penyerahan SSC menjadi sangat penting mengingat pada 31 Oktober 2025, BPOM memperoleh pengakuan dari US FDA sebagai Certifying Entity bebas Cesium untuk ekspor rempah Indonesia ke Amerika Serikat.
Pengakuan internasional tersebut merupakan bukti kepercayaan dunia terhadap sistem pengawasan pangan Indonesia. Hingga 15 Juni 2026, BPOM telah menerbitkan 438 dokumen SSC untuk 26 perusahaan dengan nilai ekonomi ekspor yang mencapai sekitar Rp47 triliun. Pada kegiatan ini, BPOM menyerahkan tiga SSC kepada pelaku usaha yang siap memperluas pasar produknya ke mancanegara.
Dengan dukungan 83 Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di seluruh Indonesia, BPOM terus bergerak aktif mendampingi UMKM agar mampu naik kelas, memenuhi standar internasional, dan memperluas akses pasar ekspor. Semangat tersebut sejalan dengan tema kegiatan tahun ini, “Pangan Berkualitas, Pasar Tanpa Batas.”
“Produk UMKM Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tamu terhormat di negeri sahabat. Dengan keamanan pangan yang terjamin, kualitas yang unggul, dan dukungan regulasi yang adaptif, kami optimistis produk pangan Indonesia mampu bersaing di pasar global,” tutup Taruna Ikrar.
Kehadiran Prof. Taruna Ikrar di Universitas Surabaya tidak dilakukan seorang diri. Ia didampingi Ketua DWP BPOM RI dr. Elfi Ikrar, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM RI Dra. Elin Herlina, Apt., M.P., para Staf Khusus Kepala BPOM RI Nor Andi Arina Wati Arsyad dan dr. Wachyudi Muchsin, S.Ked., S.H., M.Kes., C.Med., Tim Ahli Kepala BPOM RI Prof. dr. Andi Armyn Nurdin dan Akbar Emdra, para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama BPOM RI, serta jajaran Balai Besar POM di Surabaya. Kebersamaan tersebut menjadi simbol kuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda dalam menyiapkan masa depan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
