Oleh: AbuAl-Faqir
TEBARAN.COM – Dalam kehidupan sosial, kita sering menyaksikan sebuah fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Ada orang-orang yang melakukan korupsi, manipulasi, kebohongan, dan berbagai bentuk kecurangan, tetapi tampak hidup dalam kegembiraan. Mereka tersenyum, menikmati hasil perbuatannya, bahkan terlihat bangga dengan pencapaiannya. Namun ketika satu per satu fakta mulai terungkap, keadaan berubah drastis. Mereka yang dahulu tertawa justru menangis, gelisah, marah, bahkan menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa dirinya.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Dari perspektif sosiologi budaya, manusia hidup dalam lingkungan sosial yang memberikan penghargaan terhadap status, kekuasaan, dan simbol-simbol kesuksesan. Ketika seseorang memperoleh kekayaan atau jabatan melalui cara yang tidak benar, masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhirnya. Mobil mewah, rumah besar, dan gaya hidup berkelas menjadi ukuran keberhasilan. Dalam kondisi seperti ini, pelaku kecurangan merasa dirinya menang. Ia memperoleh pengakuan sosial tanpa harus bekerja secara jujur dan penuh pengorbanan.
Budaya materialisme yang berlebihan sering membuat sebagian orang lupa bahwa keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi juga bagaimana cara memperolehnya. Selama kebohongan belum terbongkar, pelaku merasa aman dan menikmati pujian dari lingkungan sekitarnya. Di sinilah muncul perasaan euforia semu yang membuat mereka terlihat bahagia.
Dari sudut pandang psikologi forensik, perilaku tersebut dapat dijelaskan melalui mekanisme pembenaran diri (self-justification). Pelaku korupsi atau manipulasi sering kali membangun narasi dalam pikirannya bahwa apa yang dilakukan adalah hal yang wajar. Mereka berkata, “Semua orang juga melakukan hal yang sama,” atau “Saya hanya mengambil sedikit.” Mekanisme ini berfungsi untuk meredam rasa bersalah yang sebenarnya ada dalam hati nurani.
Namun, alam bawah sadar manusia tidak pernah benar-benar bisa dibohongi. Di balik senyum dan kemewahan, sering tersimpan kecemasan yang mendalam. Mereka hidup dengan ketakutan bahwa suatu hari rahasia itu akan terbongkar. Ketika penyelidikan dimulai, ketika saksi berbicara, ketika bukti bermunculan, tekanan psikologis meningkat secara drastis. Rasa percaya diri yang dahulu tinggi berubah menjadi kepanikan.
Menariknya, banyak pelaku yang kemudian menyalahkan orang lain. Dalam psikologi, fenomena ini disebut sebagai externalization of blame, yaitu kecenderungan melempar kesalahan kepada pihak luar untuk melindungi harga diri. Mereka sulit menerima kenyataan bahwa penderitaan yang dialami merupakan konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Akibatnya, teman dianggap pengkhianat, bawahan dianggap tidak loyal, media dianggap memfitnah, bahkan takdir dan keadaan pun ikut dipersalahkan.
Dalam perspektif agama Islam, fenomena ini sesungguhnya telah dijelaskan sejak berabad-abad lalu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih jalan kebenaran atau jalan kebatilan. Terkadang pelaku kezaliman diberikan kenikmatan dan kelapangan hidup. Namun kelapangan itu bukan selalu tanda keridhaan Allah. Bisa jadi itu adalah bentuk penangguhan sebelum datangnya pertanggungjawaban yang lebih besar.
Islam mengajarkan bahwa harta yang diperoleh dengan cara haram tidak akan membawa ketenangan. Mungkin tampak banyak, tetapi keberkahannya hilang. Mungkin terlihat membahagiakan, tetapi kebahagiaan itu hanya sementara. Ketika kebenaran mulai terungkap, rasa takut, malu, dan penyesalan datang bersamaan. Pada saat itu, jabatan tidak mampu melindungi, kekayaan tidak mampu menenangkan, dan para pendukung pun mulai menjauh.
Sejarah manusia menunjukkan pola yang berulang. Banyak orang yang merasa kuat karena kekuasaan, merasa aman karena harta, dan merasa tidak tersentuh oleh hukum. Namun pada akhirnya, kebenaran memiliki cara untuk menemukan jalannya sendiri. Tidak selalu cepat, tetapi hampir selalu datang pada waktunya.
Karena itu, kebahagiaan yang dibangun di atas korupsi, manipulasi, dan kecurangan sesungguhnya hanyalah kebahagiaan semu. Ia seperti bangunan megah yang berdiri di atas pasir. Tampak kokoh dari luar, tetapi rapuh di dalam. Ketika gelombang kebenaran datang, bangunan itu runtuh dengan sendirinya.
Maka janganlah tertipu oleh tawa orang yang memperoleh sesuatu dengan cara yang salah. Bisa jadi mereka sedang menikmati jeda sebelum datangnya konsekuensi. Dan jangan pula iri terhadap keberhasilan yang dibangun di atas kebohongan. Sebab dalam kehidupan ini, yang paling berharga bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa bersih cara kita memperolehnya.
Pada akhirnya, kejujuran mungkin berjalan lebih lambat, tetapi ia memberi ketenangan. Sedangkan kebohongan mungkin berlari lebih cepat, tetapi suatu saat ia akan kehabisan tempat untuk bersembunyi. Karena kebenaran boleh terlambat datang, namun hampir tidak pernah gagal menemukan jalannya.
