Tebaran.com

Empat Pengurus Inti Mundur, Gejolak Internal Guncang KONI Makassar

TEBARAN.COM,MAKASSAR – Sebanyak 4 orang pengurus inti di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengundurkan diri dari kepengurusan secara bersamaan. Mereka memilih mundur karena diduga dipicu pengelolaan keuangan yang amburadul.

Mereka ramai-ramai mengundurkan diri secara serentak pada Senin (11/5/2026). Keempatnya adalah: Sekretaris KONI Makassar Iqbal Djalil; Wakil Sekretaris KONI Makassar Queensyah Azahrah Kirana Siliwangi; Ketua Bidang Pendidikan dan Penataran Andi Yasin Iskandar; serta Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Arianto Najib.

Saat dikonfirmasi, Iqbal enggan membeberkannya lebih jauh terkait alasannya mengundurkan diri dari kepengurusan KONI Makassar. Dia hanya berspekulasi dengan mengaku akan fokus mengelola bisnisnya.

“Kalau saya mengundurkan diri karena lagi mau fokus dengan pekerjaan dulu,” kata Iqbal Djalil kepada Tebaran Saat dikonfirmasi melalui Via WhatsApp, Sabtu(16/5).

Namun salah satu pengurus yang enggan disebut namanya berbicara lebih jauh soal alasan mereka mundur. Salah satunya tidak sevisi lagi dengan Ketua KONI Makassar Ismail.

“Saya mau tekankan di sini, karena visi yang tidak sejalan dengan kepemimpinan Pak Ismail. Saya sudah tidak cocok dengan gaya kepemimpinan dengan ketua KONI sekarang,” katanya.

Dia juga menilai pengelolaan keuangan di KONI Makassar amburadul. Hal ini menjadi salah satu alasannya mengundurkan diri agar tidak terlibat kasus hukum.

“Ini sudah terlalu rusak di dalam, paling parah pengelolaan anggaran terlalu berbahaya. Makanya saya lebih baik mundur saja, saya tidak mau terlibat dalam hal-hal begini,” paparnya.

Dia menyebut KONI Makassar mendapat suntikan anggaran Rp 15 miliar dari APBD Perubahan 2025. Anggaran itu habis dalam 3 bulan tanpa pelaporan yang jelas.

“Pengalaman tahun lalu, saat anggaran perubahan, dalam injury time, ada dana Rp 15 miliar yang habis dalam tiga bulan. Itu pun alokasinya entah ke mana, bahkan diduga ada oknum yang menitipkan melalui cabor,” katanya.

“Bayangkan saja, dana hibah Rp 15 miliar habis dalam tiga bulan. Ini kan terlalu bahaya, sementara pembinaan di cabor juga kita tahu lah kondisinya. Jadi saya tidak mau terlibat dan lebih baik menghindari,” tambahnya.

Pihaknya mengaku telah memperingatkan Ketua KONI Makassar Ismail agar hati-hati dalam pengelolaan anggaran negara ini. Namun saran itu disebut diabaikan Ismail.

“Kami sudah sempat ingatkan, jangan cari nafkah di KONI, tidak usah pakai cara-cara titip anggaran ke sana kemari, tetapi sepertinya tidak diindahkan. Karena jujur saja tidak logis, malah anggaran Rp 15 miliar itu hanya sekitar Rp 900 juta yang silpa, pengembalian,” ujarnya.

Pengurus mundur lainnya juga mengakui dinamika di internal KONI Makassar ini sudah berlarut. Saran itu tidak didengar sehingga dia juga memilih mundur.

“Jadi inti dari saya mundur ini karena visi ke depan sudah tidak sepikiran lagi. Merasa traumatik juga dengan kejadian-kejadian yang lalu, melihat kondisi sekarang ini lebih baik menarik diri supaya tenang gitu,” ungkapnya.

Sementara itu, Ismail belum memberi keterangan terkait pengunduran diri 4 pengurus KONI Makassar ini. Ismail tak merespons saat dikonfirmasi melalui Via WhatsApp hingga Sabtu (16/5) sore.

Exit mobile version