TEBARAN.COM,MAKASSAR – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal Arifin Paliwang datang ke Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjenguk mahasiswi MA (21) korban dugaan penyekapan dan pemerkosaan. Zainal memastikan korban mendapat pendampingan pemulihan psikologis.
“Saya kan mendapat informasi, berita di Medsos yang lagi viral sekarang. Ada salah satu masyarakat saya yang menjadi korban penyekapan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku,” ujar Zainal usai menjenguk korban di Makassar, Kamis (14/5/2026).
Kedatangan Zainal untuk melihat langsung kondisi korban setelah kasus dugaan penyekapan dan pemerkosaan tersebut mencuat. Dia juga meminta media tidak terlalu menyoroti identitas maupun kondisi korban.
Menurut Zainal, pembatasan sorotan terhadap korban perlu dilakukan untuk menjaga kondisi psikologisnya. Dia menilai perhatian publik seharusnya diarahkan pada upaya pencarian pelaku.
“Tapi, saya minta kepada teman-teman media, jangan di-blow up korbannya. Jangan terlalu di-blow up korban. Yang harus di-blow up itu bagaimana upaya kita bersama-sama mencari pelaku ini,” katanya.
Zainal mengatakan penanganan korban harus diarahkan pada perlindungan dan pemulihan mental. Dia juga meminta adanya bantuan psikolog untuk korban.
“Kasihan dia secara psikologi, secara apa namanya itu. Nurani apa segala macam ini yang perlu kita tangani segera. Dari psikologi juga kita minta bantuan,” ucapnya.
Kasus ini sebelumnya terjadi di rumah kontrakan kawasan perumahan elite Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar. Korban diduga disekap selama 3 hari sejak Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5).
Pelaku berinisial FR (33) diduga memakai modus lowongan kerja babysitter untuk menjebak korban. Korban awalnya mencari pekerjaan melalui Facebook sebelum mendapat tawaran kerja dari pelaku.
“Pengakuannya korban diterima bekerja di rumah itu dengan gaji Rp3 juta per bulan. Kan korban butuh uang, dia tertarik,” kata warga berinisial IK saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (13/5).
IK mengatakan korban kemudian diminta datang ke rumah yang disiapkan pelaku. Pelaku diduga sengaja menyewa rumah tersebut untuk melancarkan aksinya.
“Jadi ceritanya korban di suruh bekerja. Dan dipaksa bermalam. Di situ korban disekap. Ini pelaku sewa rumah tiga hari,” tuturnya.
Selama berada di rumah itu, korban diduga mengalami penyekapan dan tindak kekerasan. Korban juga diduga mengalami kekerasan seksual.
Setelah tiga hari disekap, korban berhasil melarikan diri melalui jendela rumah kontrakan. Saat itu, pelaku disebut sudah tidak berada di lokasi.
Korban keluar dari rumah dalam kondisi lemah dengan tangan masih terikat. Warga kemudian menolong korban, melepas ikatan di tangannya, lalu menghubungi polisi.
“Di situ yang videonya viral. Korban lemas karena kan juga tidak makan, dia kena pisau waktu diikat sempat dia melawan,” terangnya.
Kanit Reskrim Polsek Tamalate Iptu Abd Latif mengatakan polisi menerima laporan dari warga terkait dugaan penyekapan tersebut. Petugas lalu mendatangi lokasi dan menemukan korban dalam kondisi tangan terikat.
“Jadi saat kami menerima informasi dari masyarakat bahwa diduga ada seorang gadis disekap di salah satu rumah, petugas dari Polsek langsung mendatangi lokasi tersebut. Setelah tiba di TKP, benar menemukan seorang perempuan dalam kondisi tangannya terikat,” beber Abd Latif, Rabu (13/5).
Latif mengatakan polisi juga mendalami dugaan pemerkosaan terhadap korban. Dugaan itu muncul berdasarkan pemeriksaan awal terhadap korban.
“Ada juga dugaan tindak pemerkosaan berdasarkan keterangan awal korban,” lanjut Latif.
Sementara itu, terduga pelaku dilaporkan melarikan diri sebelum polisi tiba di lokasi. Polisi masih menyelidiki kasus tersebut dan mengejar pelaku.
“Saat ini pelaku masih dalam proses penyelidikan dan pengejaran. Ketika petugas tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi, pelaku sudah melarikan diri dan tidak berada di TKP,” pungkasnya.
