Tebaran.com

Ratusan Laporan Gejala Muncul, APPMBGI Minta Pengawasan MBG Diperketat

Ketua Umum APPMBGI Abdul Rivai Ras Foto list.

TEBARAN.COM,JAKARTA – Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) meminta evaluasi terhadap standar keamanan pangan dan sistem distribusi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan.

Ketua Umum APPMBGI, Dr.Abdul Rivai Ras, mengatakan pihaknya turun langsung untuk memastikan pelaksanaan program MBG berjalan dengan baik.

“Kami datang memastikan kondisi anak-anak tertangani baik sekaligus mengevaluasi pelayanan MBG agar lebih aman dan berkualitas,” kata Abdul Rivai Ras dalam keterangannya, Selasa (12/5/26).

Mengacu pada data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rivai menyebutkan terdapat 252 laporan gejala yang disampaikan orang tua siswa setelah insiden pada 8 Mei 2026. Sejumlah siswa juga sempat menjalani pemeriksaan di beberapa fasilitas kesehatan.

“Anak-anak adalah amanah bangsa. Karena itu, setiap proses penyelenggaraan MBG harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, disiplin, dan tanggung jawab tinggi,” ujarnya.

Rivai Ras menambahkan, informasi awal yang diterima mengarah pada dugaan perubahan kualitas makanan saat proses distribusi dan penyajian. Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil investigasi laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM.

“SPPG Pulogadung 15 mulai beroperasi sejak akhir Maret 2026 dan masih dalam proses pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kami meminta seluruh pengelola MBG memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP),” ucap Rivai.

Selain mendorong percepatan sertifikasi dapur MBG, APPMBGI juga menilai pelatihan keamanan pangan bagi penjamah makanan dan pengelola distribusi perlu diperkuat. Ia pun menekankan, pengawasan program MBG bersama pemerintah melalui Command and Control Centre juga diharapkan dapat dilakukan lebih optimal dan ketat.

“Kejadian ini harus menjadi bahan refleksi bersama. Kita tidak boleh berhenti pada rasa prihatin saja, tetapi harus bergerak melakukan pembenahan sistem secara nyata,” pungkasnya.

Exit mobile version