TEBARAN.COM,MAKASSAR — Hari Hari Kartini tahun 2026 bukan sekadar seremoni mengenang sosok Raden Ajeng Kartini, tetapi menjadi simbol kebangkitan perempuan di era modern era di mana akses terhadap pendidikan, teknologi, dan ruang kepemimpinan semakin terbuka, namun tetap menuntut perjuangan yang cerdas dan berintegritas.
Menurut Hj. Rosnaeni Arsyad, makna Kartini di tahun 2026 harus dimaknai sebagai “pergeseran dari emansipasi menuju transformasi.” Jika dahulu perempuan berjuang untuk mendapatkan hak dasar seperti pendidikan dan kesetaraan, kini perempuan dituntut untuk menjadi agen perubahan yang aktif, inovatif, dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai budaya.
Di era modern ini, dunia pendidikan menjadi fondasi utama kebangkitan perempuan. Pendidikan bukan lagi sekadar alat untuk “menyamai laki-laki”, tetapi menjadi sarana untuk melahirkan perempuan pemimpin, pemikir, dan penggerak peradaban. Hj. Rosnaeni menekankan bahwa perempuan masa kini harus menguasai tiga hal penting: literasi digital, kecerdasan emosional, dan integritas moral. Tanpa ketiganya, kemajuan hanya akan bersifat semu.
Inspirasi Kartini di masa kini tercermin pada perempuan yang berani bermimpi besar, namun tetap membumi. Mereka hadir sebagai guru yang mencerdaskan, ibu yang mendidik generasi, serta profesional yang berkontribusi nyata di berbagai sektor. Inilah wajah baru emansipasi: bukan sekadar kebebasan, tetapi tanggung jawab untuk memberi dampak.
Motivasi yang dapat diambil dari semangat Kartini adalah keberanian untuk melawan batasan—bukan dengan konfrontasi, tetapi dengan kapasitas. Perempuan tidak lagi harus membuktikan diri dengan cara yang keras, melainkan dengan prestasi, karya, dan konsistensi. Dalam pandangan Hj. Rosnaeni, perempuan hebat adalah mereka yang mampu berdiri sejajar tanpa kehilangan kelembutan, dan mampu bersaing tanpa menjatuhkan.
Namun, tantangan di era modern juga tidak ringan. Arus informasi yang begitu cepat, standar sosial yang sering tidak realistis, serta tekanan untuk “sempurna” menjadi ujian tersendiri bagi perempuan. Di sinilah pendidikan karakter menjadi penting. Emansipasi sejati bukan hanya tentang kesempatan, tetapi juga tentang kesiapan mental dan spiritual dalam menghadapi dinamika zaman.
Di dunia pendidikan, semangat Kartini harus diwujudkan dalam sistem yang inklusif dan adil. Tidak boleh ada lagi diskriminasi berbasis gender, baik dalam akses pendidikan maupun kesempatan berkarier. Kurikulum harus mampu mendorong perempuan untuk berani berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Perempuan harus didorong menjadi pencipta solusi, bukan sekadar pelengkap sistem.
Hari Kartini 2026 adalah momentum refleksi sekaligus akselerasi. Refleksi bahwa perjuangan belum selesai, dan akselerasi bahwa perempuan harus mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah masa depan bangsa. Seperti yang disampaikan Hj. Rosnaeni Arsyad, “Perempuan hari ini bukan lagi menunggu perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri.”
Dengan semangat ini, Kartini hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia—dalam keberanian mereka belajar, dalam keteguhan mereka menghadapi tantangan, dan dalam komitmen mereka membangun generasi yang lebih baik. Inilah esensi kebangkitan perempuan di era modern: berdaya, berakhlak, dan berdampak.
