Logo Header

Mental Health yang Perlu Dipahami

Jusrianto
Jusrianto Jumat, 26 November 2021 21:06
Ilustrasi seorang wanita yang sedang mengalami depresi. (Nida'ul Hafiyah Musawwir).
Ilustrasi seorang wanita yang sedang mengalami depresi. (Nida'ul Hafiyah Musawwir).

tidak kalau saat ini warga Indonesia banyak yang mengalami mental health? Hal ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang mengungkapkan tentang kondisi mentalnya dimedia sosial, baik itu di Instagram ataupun Tiktok.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Perlu diketahui mental health atau kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan seseorang hingga pada akhirnya akan memiliki dampak besar untuk perilaku serta kepribadiannya.

Peristiwa yang biasanya dapat memengaruhi adalah stres berkepanjangan, pelecehan anak, hingga adanya kekerasan yang terjadi dalam suatu rumah tangga.

Adapun gejala pada orang yang menderita kesehatan mental yaitu, perubahan drastis dalam kebiasaan makan, seperti makan terlalu banyak atau terlalu sedikit, delusi, paranoia, atau halusinasi, berteriak atau berkelahi dengan keluarga dan teman-teman, ketakutan, kekhawatiran, atau perasaan bersalah yang selalu menghantui. kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi, marah berlebihan dan rentan melakukan kekerasan, ketidakmampuan untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari, dan lainnya.

Di Indonesia sendiri orang-orang yang mengalami kesehatan mental masih kurang diperhatikan, hal ini diliat dari beberapa factor, pertama stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental, stigma atau nilai buruk yang diberikan kepada pengidap kesehatan mental di Indonesia didapatkan melalui pengaruh lingkungan yang buruk.

Labelling, pengucilan, dan stereotip terhadap pengidap gangguan kesehatan mental membuat orang yang menderita gangguan mental memilih bungkam atau tidak berkonsultasi kepada ahli.

Kedua rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental, minimnya pengetahuan tentang kesehatan mental membuat penilaian masyarakat terhadap pengidap gangguan kesehatan mental menjadi negatif. Akibatnya, terjadi salah penanganan terhadap penderita kesehatan mental.

Ketiga kesehatan mental di Indonesia masih jadi hal tabu, keterbatasan pemahaman dan pengetahuan mengenai kesehatan mental di Indonesia tidak dapat lepas dari nilai-nilai tradisi budaya atau kepercayaan masyarakat.

Sebagian masyarakat masih mempercayai penyebab kesehatan mental berasal dari hal-hal supernatural atau takhayul sehingga pengidap gangguan kesehatan mental menganggap gangguan yang terjadi dalam dirinya adalah aib.

Pemahaman ini membuat orang yang membutuhkan bantuan tenaga ahli enggan untuk ditangani.

Keempat diskriminasi terhadap pengidap gangguan kesehatan mental, kesadaran masyarakat yang rendah tidak jarang mengakibatkan munculnya diskriminasi terhadap pengidap gangguan kesehatan mental.

Bentuk diskriminasi tersebut dapat berupa perlakuan kasar, penghinaan, maupun perundungan. Tak jarang pula masyarakat menjauhi pengidap gangguan kesehatan mental serta keluarganya.

Kelima akses terhadap kesehatan mental belum merata, akses terhadap kesehatan mental di Indonesia masih sulit. Anggaran pemerintah untuk kesehatan mental, kapasitas rumah sakit jiwa, serta bangsal psikiatri di rumah sakit umum masih belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Kementerian Kesehatan Indonesia memprediksi setidaknya 90% orang dengan gangguan kesehatan mental tidak mendapatkan akses terhadap perawatan yang memadai.

Untuk orang-orang yang tidak mengalami kesehatan mental perlu untuk mendukung orang-orang yang mengalaminya, jika mendapati mereka menceritakan kondisinya di sosial media, dukunglah dengan komentar positif, jangan pernah berkomentar negative terhadap mereka karena bagi orang-orang yang tidak mengalaminya tidak pernah tahu betapa betapa mereka tersiksa, berusaha menahan diri, dan sangat ingin sembuh.

Meningkatkan kesadaran masyarakat, menghapuskan stigma, serta meluruskan prasangka terhadap pengidap gangguan kesehatan mental menjadi tanggung jawab bersama.

 

Citizen Reporter: Nida’ul Hafiyah Musawwir (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar)

Jusrianto
Jusrianto Jumat, 26 November 2021 21:06
Komentar