Logo Header

Aktivis Kecam Aksi Todong Senjata Oknum Polisi di Bone ke Anak di Bawah Umur

Jusrianto
Jusrianto Kamis, 25 November 2021 17:29
Ilustrasi penodongan senjata. (INT)
Ilustrasi penodongan senjata. (INT)

TEBARAN.COM, MAKASSAR – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)-LBH Makassar mengecam tindakan oknum polisi yang menodongkan senjata api ke seorang anak di Desa Mamminasae, Kecamatan Lamuru, Bone.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Salah seorang pengurus YLBHI Makassar Andi Haerul Karim mengatakn, ancama dengan senjata api yang dilakukan oleh anggota polisi meruapakan kekerasan terhadap anak dan harus ditindak serius.

“Kekerasan dan pengancaman menggunakan senjata api terhadap anak jelas merupakan pelanggaran, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 C Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yakni, “Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak”,” ungkapnya, Kamis (25/11/2021).

Tindakan penggunaan senjata api yang tidak semestinya juga turut melanggar ketentuan dalam Perkapolri No. 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia; serta Perkapolri No. 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.

Lebih lanjut dalam pada Pasal 47 Perkapolri 8/2009 disebutkan bahwa penggunaan senjata api hanya boleh digunakan bila benar-benar diperuntukkan untuk melindungi nyawa manusia. Bukan sebaliknyax pada tanggal 18 November Anak A tidak sama sekali melakukan tindakan yang membahayakan, mengancam, jiwa seseorang.

Perbuatan menodongkan senjata tidak hanya berlebihan namun juga perbuatan yang mengancam nyawa dan berdampak serius pada anak.

“Polda Sulsel untuk segera menindak tegas anggota Polri yang bersangkutan, secara etik dan disiplin karena melakukan tindakan yang bertentangan dengan ketentuan implementasi prinsip dasar dan standar hak asasi manusia, serta melakukan penegakan hukum atas tindak pidana kekerasan terhadap anak secara akuntabel dan imparsial sebagaimana ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya.

“Kapolda Sulsel agar segera mengevaluasi kinerja jajarannya dalam hal penggunaan senjata api yang menyalahi ketentuan hukum dan prinsip dasar hak asasi manusia,” tandasnya.

Untuk diketahui, pada 18 November 2021 lalu sekitar pukul 22:00 wita Anak A (13) dan Anak P (12) dari Desa Mamminasae ingin pergi ke rumah neneknya untuk mengambil HP di Desa Mattampa Bulu.

Pada saat mengendarai motor menuju ke sana, Anak A dan Anak P melewati sebuah rumah kemudian berteriak “telaso”. Anak A mengira di rumah tersebut hanya ada anak sebayanya.

Namun di tempat itu pula ada seorang anggota polisi berinisial Bripka IU dan dua orang lain yakni HK dan DM.

Sekembalinya A dan P dari rumah neneknya, di tengah jalan Anak A dan Anak P dihadang oleh Bripka II dan menyuruh mereka untuk menepi ke bahu jalan.

Setelah berhenti, begitu mereka turun dari motor Bripka Ilham Uspar lalu mengancam Anak A dengan menggunakan senjata api dan berkata, “siapa mattelaso?” Dengan kondisi panik dan ketakutan, Anak A spontan buang air di celananya.

Sekitar 10 meter dari tempat mereka berhenti, Anak A dibawa oleh DM dan HK ke bengkel. Lalu menyusul Anak P dan Bripka IU. Kemudian Anak A disuruh duduk, dia juga meminta maaf atas kelakuannya.

Namun, Bripka IU langsung menendang lutut kiri Anak A. Reaksi dari perlakuan tersebut, sekali lagi Anak A spontan buang air di celana.

Anak A dengan kondisi tunduk dan ketakutan sempat mendengarkan pemilik bengkel dan mencoba menghentikan perbuatan kepada anak A dengan memberitahu kepada Bripka IU, HK dan DM bahwasanya Anak A adalah anak dari T (orang yang dikenal di desa).

Sebelum pergi dari bengkel, Bripka IU mengancam Anak A bahwa akan menghadang juga memukuli balok. Setelah itu Anak A dan Anak P pergi dan kembali ke rumah neneknya untuk menganti celana. Setelah itu mereka kembali ke rumah tantenyanya di Desa Mamminasae.

Jusrianto
Jusrianto Kamis, 25 November 2021 17:29
Komentar