Pro Kontra PSEL Makassar: Wali Kota Ungkap Alasan Pilih TPA Manggala
TEBARAN.COM,MAKASSAR – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggala menjadi pro kontra di tengah masyarakat.
Ada yang setuju PSEL di bangun di TPA Manggala, ada juga yang kurang setuju dibangun di sana.
Menanggapi itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menegaskan, proyek ini merupakan salah satu langkah paling ampuh untuk mengurangi persoalan sampah di Kota Makassar.
Menurutnya, membangunan PSEL sebaiknya dilakukan langsung di kawasan TPA Manggala. Alasannya, proses transportasi sampah dari TPA ke PSEL akan lebih efisien karena jaraknya dekat.
“Artinya, biaya transportnya itu bisa ke-cover dengan baik, tidak jauh lagi. Kalau dibawa ke lokasi lain yang jauh, itu akan menjadi beban pemerintah daerah,” ujarnya.
Jika PSEL ditempatkan di lokasi lain, potensi pengeluaran biaya akan semakin besar. Termasuk diperlukan kesiapan warga dalam menerima perubahan pola pengelolaan sampah agar program ini bisa berjalan baik. Karenanya, proyek ini harus dijalankan dengan strategi yang matang agar benar-benar efektif.
“Maka dari itu diperlukan bagaimana supaya ini bisa dilaksanakan dengan baik. Artinya, kalau selama ini kita mau di lokasi yang baru, kan belum familiar orang dengan sampah-sampah yang ada dan sebagainya,” jelas Munafri.
Apalagi, menurut Wali Kota, keberadaan TPA Manggala yang berdekatan dengan Sungai Kajeng Jeng sekitar 1 km dari titik pembangunan menjadi salah satu faktor pendukung penting dalam rencana pembangunan PSEL.
“Kan ada sungai Kajeng-Jeng di belakang, di belakangnya itu, kurang lebih 1 km lah,” ucapnya.
Munafri menyebut, pemerintah pusat maupun daerah saat ini sangat konsen terhadap isu pengelolaan sampah.
“Proses PSEL ini harus kita tangkap, karena ini merupakan salah satu cara yang paling ampuh untuk mengurangi persoalan sampah. Dan ini terbuka, pemerintah Indonesia saat ini sangat konsen dengan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan kajian, keberadaan PSEL hanya mampu mengurangi sekitar 14–15 persen persoalan sampah. Angka tersebut memang belum signifikan, namun dianggap sebagai langkah awal yang harus dimasifkan agar pengelolaan sampah bisa tertangani.
