TEBARAN.COM,JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) melihat peluang ekspor pupuk di tengah terganggunya rantai pasok global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk dampak penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengungkapkan bahwa kondisi ini justru membuka ruang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor, khususnya komoditas urea.
Berbeda dengan banyak negara yang bergantung pada impor, Indonesia memiliki kapasitas produksi yang memungkinkan untuk memasok kebutuhan luar negeri.
Menurutnya, selama ini Selat Hormuz menjadi jalur distribusi utama pupuk dunia, termasuk urea, dengan volume mencapai sekitar 10 juta ton per tahun. Gangguan pada jalur tersebut membuat sejumlah negara mulai mencari alternatif pemasok.
“Indonesia termasuk negara pengekspor urea, dengan volume ekspor berkisar 1,5 hingga 2 juta ton per tahun. Dari sisi pasokan, kondisi kita relatif aman,” ujar Rahmat kepada wartawan Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, Rahmad menegaskan prioritas utama perusahaan tetap pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri sebelum menyalurkan ke pasar ekspor. Dengan kapasitas produksi urea nasional sekitar 9,4 juta ton per tahun, Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk mengekspor apabila kebutuhan domestik telah terpenuhi.
Sejumlah negara seperti India, Filipina, dan Australia disebut mulai menjajaki pasokan dari Indonesia. Negara-negara tersebut sebelumnya banyak bergantung pada suplai dari kawasan Timur Tengah yang kini terganggu.
Di sisi lain, permintaan pupuk global tengah meningkat seiring musim tanam di berbagai negara. Kawasan Asia Selatan memasuki musim tanam padi, sementara Australia mulai menanam gandum, dan Amerika Serikat memasuki musim tanam jagung.
“Permintaan dunia memang sedang tinggi. Kami berharap Indonesia dapat berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan global,” kata Rahmad.
Senada, Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa distribusi pupuk bersubsidi di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama perusahaan tahun ini, dengan alokasi mencapai sekitar 9,84 juta ton.
Ia memastikan ekspor hanya akan dilakukan apabila kebutuhan nasional telah terpenuhi. Di tengah potensi kenaikan harga global akibat terbatasnya pasokan, perusahaan berkomitmen menjaga harga pupuk bersubsidi tetap sesuai ketentuan pemerintah.
Saat ini, harga pupuk bersubsidi masih mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET), antara lain urea Rp1.800 per kilogram, NPK Rp1.840 per kilogram, ZA Rp1.360 per kilogram, pupuk organik Rp640 per kilogram, serta NPK khusus kakao Rp2.640 per kilogram.
“Kami pastikan petani dalam negeri tidak terdampak gejolak global. Harga pupuk bersubsidi tetap sesuai aturan,” ujarnya.
Dengan posisi tersebut, Indonesia dinilai berada dalam posisi strategis, tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berpotensi menjadi penopang pasokan pupuk di tengah ketidakpastian global.
