Logo Header

Diskusi ‘Kiyaiku Pahlawanku’, Jejak KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah

Ridwan
Ridwan Kamis, 11 November 2021 17:52
Diskusi Panel Ansor dan IKA PMII Kabupaten Gowa.
Diskusi Panel Ansor dan IKA PMII Kabupaten Gowa.

TEBARAN.COM, MAROS – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Maros dan Pengurus Cabang Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Maros mengadakan diskusi penel dalam rangka memperingati momentum Hari Pahlawan Nasional 10 November di Warkop Amure Jln Crisant, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Rabu, 10 November 2021.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

“Kiyaiku, Pahlawanku” sebagai tema diskusi ini. Hadir penalis Safaruddin dari Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Maros dan Abd Rahman dari Pengurus Cabang IKA PMII Kabupaten Maros.

Abdul Rahman, dalam pandangannya mengungkapkan bahwa dalam tinjauan ke agamaan khususnya di Nahdlatul Ulama, jauh sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia ini, NU telah mencetuskan konsep bernegara yaitu negara Darussalam.

“Sedangkan dari tinjauan ke Indonesiaan sendiri dalam proses kemerdekaan Indonesia, tidak hanya diperjuangkan oleh beberapa kelompok saja, tetapi diperjuangkan dengan banyak kelompok,” jelas Rahman.

Maka dari itu, lanjut dosen STAI DDI Maros ini karena negara diperjuangkan oleh latar belakang masyarakat yang berbeda-beda, maka sepatutnya dapat memahami agama sesuai dengan subtansinya dan tidak memaksakan suatu kehendak.

“Sehingga tercapai visi negara yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur,” jelasnya.

Sementara Safaruddin, panelis dari GP Ansor Maros, mencoba mengkaji fatwa dari Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yakni resolusi jihad NU 22 Oktober 1945. Di mana fatwa ini merupakan energi yang sangat besar yang dijadikan pegangan oleh ulama, santri, warga khususnya di NU yang diwariskan sampai sekarang.

Lanjutnya, KH Abdul Wahab Chasbullah yang mencetuskan jargon “Hubbul Wathan Minal Iman” yang artinya mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, merupakan konsep mencintai negara ini sangat penting untuk ditanamkan kepada seluruh elemen bangsa ini.

“Karena kita dapat melihat di luar sana, bagaimana kemudian negara suriah sampai sekarang masih berjibaku dengan peperangan, hal ini tentu saja dipicu akibat tidak adanya konsep mencintai bangsa dan negaranya sendiri,” tandasnya.

Sedangkan dalam konteks Kabupaten Maros sendiri, jika ditinjau dari sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Kabupaten Maros sendiri memiliki posisi sentral dalam melahirkan tokoh-tokoh ulama-ulama dari jaringan tareqat yang ada.

Maka dari itu, salah satu langkah nyata untuk menghargai perjuangan ulama-ulama yang pernah mewarnai peradaban Islam di Kabupeten Maros, pemerintah daerah bersama seluruh pihak diharapkan mampu mengidentifikasi jejak-jekak para ulama dan merawat dan mendokumentasikan karya-karyanya.

“Ini sekali lagi sebagai salah satu apresiasi kita kepada para ulama, yang sejatinya mereka juga adalah pahlawan tapi dalam konteks lokal,” tutur Dosen STAI DDI Pangkep ini.

Hadir juga sebagai pembanding diskusi, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Maros, Abrar Rahman yang mengatakan bahwa jauh sebelum negara ini berdiri, para ulama telah mengkonsolidasikan proses-proses kemerdekaan bangsa ini yang dimulai tahun 1924 dalam momen pembentukan wadah bernama Nahdlatul Wathan atau kebangkitan tanah air. Tashwirul afkar atau kebangkitan ilmu pengetahuan dan Nahdlatutujjar atau kebangkitan saudagar.

Lalu kemudian dibentuklah Komite Hijaz oleh Hadratusyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, yang kemudian diketuai oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya ormas besar bernama Nahdlatul Ulama.

“Karena itu, kaum muda NU dan santri harus melek sejarah, bahwa kemerdekaan bangsa kita ini tidak terlepas dari perjuangan para ulama-ulama kita, peran ulama dengan segala bentuk ikhtiar lahir bathin yang dilakukan mampu mendorong banyak pihak untuk terlibat dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini,” tandas Abrar.

Sebagai contoh, bagaimana ulama-ulama terdahulu mengeluarkan suatu fatwa jihad fisabilillah yang saat ini dikenal dengan nama Resolusi Jihad Nahlatul Ulama pada tanggal 22 oktober 1945 yang kemudian menjadi pemicu utama meledaknya peristiwa perang 10 November di Surabaya, melawan tentara Inggris dan Belanda sekaligus untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamirkan 17 Agustus 1945.

“Saat ini kita hanya dituntut untuk memastikan bahwa negara ini tidak di rongrong oleh kelompok yang mau mengubah ideologi negara yakni pancasila,” jelasnya.

“Maka dari itu sebagai kaum muda NU khususnya kita kader-kader di Gerakan Pemuda Ansor harus menjadi pejuang digarda terdepan dalam upaya mengkontekstualisasikan sprit resolusi jihad NU dimasa kini dan kedepan,” tambahnya.

Resolusi jihad dalam konteks kekenian adalah perjuangan menghadapi kelompok-kelompok intoleran yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

“Mengawal kiyai-kiyai NU dalam menjalankan aktivitas dakwahnya, serta mengambil peran-peran strategis di tengah-tengah masyarakat, dalam upaya menjaga pancasila dan keutuhan NKRI,” pungkas Abrar.

Ridwan
Ridwan Kamis, 11 November 2021 17:52
Komentar