TEBARAN.COM,MAROS — Fenomena ketika sebagian masyarakat lebih menonjolkan penampilan daripada memprioritaskan pendidikan dan kebutuhan dasar bukanlah hal yang muncul tiba-tiba ??. Ia adalah hasil pertemuan antara faktor psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berkelindan. Dalam perspektif Islam dan forensik psikologi, ini bukan sekadar soal gaya hidup—tetapi cerminan dari orientasi jiwa.
Dalam kajian psikologi modern, khususnya konsep Social Comparison Theory, manusia cenderung menilai dirinya berdasarkan orang lain. Di era digital, perbandingan ini semakin ekstrem. Media sosial menciptakan realitas semu di mana penampilan dianggap sebagai simbol kesuksesan. Akibatnya, banyak orang terdorong untuk “terlihat berhasil” daripada benar-benar membangun fondasi hidup yang kuat.
Dari sudut pandang forensik psikologi, perilaku ini sering berkaitan dengan kebutuhan validasi eksternal. Individu yang tidak memiliki rasa aman internal (insecure) cenderung mencari pengakuan melalui hal-hal yang terlihat: pakaian, gaya hidup, bahkan citra palsu. Ini bukan sekadar pilihan, tetapi bentuk kompensasi atas kekosongan batin.
Islam telah lama mengingatkan tentang bahaya orientasi semacam ini. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah At-Takatsur ayat 1: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” Ayat ini sangat relevan—ketika manusia sibuk mengejar tampilan luar, ia lalai dari hal yang lebih penting: ilmu, akhlak, dan kebutuhan hidup yang hakiki.
Lebih dalam lagi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi melihat hati dan amal. Ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukan pada penampilan, melainkan pada kualitas iman dan kontribusi nyata.
Namun, mengapa fenomena ini begitu kuat di Indonesia?
Secara sosial, budaya kolektif kita masih sangat dipengaruhi oleh “apa kata orang.” Tekanan sosial membuat individu merasa harus tampil sesuai standar lingkungan. Ditambah lagi, ketimpangan ekonomi menciptakan ilusi bahwa penampilan bisa “menyamakan status.” Seseorang yang sebenarnya kesulitan ekonomi tetap memaksakan gaya hidup tinggi demi menjaga citra.
Di sinilah terjadi konflik antara realitas dan ilusi. Kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan stabilitas finansial justru terabaikan. Dalam jangka panjang, ini berbahaya—bukan hanya bagi individu, tetapi bagi bangsa.
Dari perspektif Islam, ini adalah masalah orientasi hidup. Ketika dunia dijadikan tujuan utama, maka segala sesuatu akan diukur dengan standar duniawi. Namun ketika akhirat menjadi tujuan, maka prioritas akan berubah secara otomatis. Pendidikan menjadi penting karena ia adalah jalan ilmu. Kebutuhan dasar dijaga karena ia adalah amanah.
Nasihatnya sederhana namun mendalam: luruskan niat dan perbaiki cara pandang. Penampilan bukanlah sesuatu yang dilarang—Islam bahkan menganjurkan kerapian dan keindahan. Namun ia harus berada di bawah kendali, bukan menjadi tujuan utama.
Kita harus berani jujur pada diri sendiri: apakah kita hidup untuk dilihat manusia, atau untuk dinilai oleh Allah?
Jika orientasi ini diperbaiki, maka perilaku pun akan berubah. Kita akan lebih fokus pada membangun kualitas diri, memperkuat pendidikan, dan memenuhi kebutuhan dasar dengan bijak. Dan pada akhirnya, kita tidak hanya terlihat baik—tetapi benar-benar menjadi baik.
