Logo Header

Jaga Kesehatan Mental, Batasi Penggunaan Media Sosial dan Lakukan Detoksifikasi

Jusrianto
Jusrianto Senin, 08 November 2021 17:57
Webinar Indonesia #makincakapdigital 'Candu Medsos, Hati-hati Stres Gara-gara Media Sosial'.
Webinar Indonesia #makincakapdigital 'Candu Medsos, Hati-hati Stres Gara-gara Media Sosial'.

TEBARAN.COM, PARIGI – Sebanyak 740 peserta di Parigi, Sulawesi Tengah antusias mengikuti Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 8 November 2021.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Tema yang dibahas adalah “Candu Medsos, Hati-Hati Stres Gara-Gara Media Sosial”.

Empat orang narasumber yang tampil dalam seminar kali ini, diantaranya Akademisi dan Peneliti LKP3 Indonesia, Muhammad Habibi; Kreator Konten dan Founder @Ngemil_Lucu, Yusuf Darmawan; Penulis dan Founder EO DAMA, I Dedy Abrar Hamsir; serta Penggiat Komunitas Peduli Pendidikan Pagimana, Zulkifli Dain.

Sedangkan moderator yaitu Septy Wulandari selaku jurnalis. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 peserta.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa.

Beranjak ke sesi pemaparan, materi pertama dibawakan oleh Muhammad Habibi yang menyampaikan tema “Informasi, Identitas, dan Jejak Digital dalam Media Sosial”.

Menurut dia, media sosial dapat mempermudah komunikasi sekaligus meningkatkan kolaborasi baik individu maupun organisasi.

Namun, ada etika dan aturan yang perlu diperhatikan, misalnya tidak menyebarkan informasi pribadi, tidak mengunggah konten yang belum jelas, memastikan konten tidak menyinggung SARA, serta menjadikan media sosial sebagai penunjang pengembangan diri atau personal branding.

“Selalu berhati-hati terhadap akun yang tidak dikenal,” pesannya.

Selanjutnya, Yusuf Darmawan menyampaikan paparan berjudul “Berekspresi di Media Sosial, Bebas namun Terbatas”.

Ia mengatakan, ketika mengemukakan pendapat, seyogyanya warganet melakukan riset terlebih dahulu, menjaga kesopanan, serta mengikuti ketentuan yang berlaku.

Hindari konten yang menyinggung SARA, berbahasa kasar, menyindir seseorang, selalu mengeluh, serta unggahan yang tidak pantas. Untuk menjaga kesehatan mental dari pengaruh negatif media sosial, warganet hendaknya membatasi waktu penggunaan, melakukan detoksifikasi, serta gunakan media sosial dengan penuh kesadaran.

“Kita harus selalu ingat bahwa media sosial bukanlah pengganti dunia nyata,” jelas dia.

Pemateri ketiga, Dedy Abrar Hamsir, memaparkan materi bertema “Media Sosial Sebagai Sarana Meningkatkan Demokrasi dan Toleransi”.

Menurut dia, hal-hal yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial, antara lain boarding pass, kartu identitas, uang dan kartu kredit, slip gaji, wajah anak di bawah umur, dokumen rahasia perusahaan, lokasi terkini atau geotagging, serta konten yang memiliki copyright.

Sedangkan penggunaan media sosial yang positif, misalnya kampanye soal demokrasi, berpendapat tentang isu terkini, dan ajakan mempertahankan kebhinekaan.

“Membuat media sosial yang mengandung unsur persatuan dan keberagaman,” imbuhnya.

Adapun Zulkifli Dain, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Pahami Fitur Keamanan di Berbagai Aplikasi Media Sosial”.

Ia mengatakan, pedoman keamanan dalam bermedia sosial, antara lain jangan asal mengunggah konten, tak perlu detail mencantumkan informasi pribadi, menjaga etika, waspada dan jangan mudah percaya dengan informasi yang masuk, serta pilah pilih akun yang diikuti.

Sedangkan ancaman keamanan berinternet yang perlu diwaspadai, misalnya phising atau praktik penipuan dengan memanfaatkan informasi pribadi, serangan virus malware ke perangkat lunak, serta waspada bahaya WiFi publik.

“Malware dapat mencuri informasi, merusak data, dan mempengaruhi kinerja komputer Anda,” tutur dia.

Setelah pemaparan materi, webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu Septy Wulandari. Para peserta tampak antusias dan mengirimkan banyak pertanyaan.

Panitia memberikan uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah seorang peserta, Aspriandani, bertanya tentang kiat sebagai orang tua dalam mengawasi anak-anak bermain internet.

Menanggapi hal tersebut, Dedy Abrar Hamsir bilang, orang tua khususnya ibu, perlu meningkatkan naluri rasa was-was karena banyak godaan untuk anak-anak bermain gim dan internet di sela-sela pembelajaran daring.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

Jusrianto
Jusrianto Senin, 08 November 2021 17:57
Komentar