TEBARAN.COM,JAKARTA– Langkah pemerintah Indonesia mengekspor beras perdana sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi mendapat apresiasi dari kalangan akademisi dan pengamat pertanian.
Ekspor tersebut dinilai menjadi indikator kuat bahwa produksi beras nasional berada pada kondisi yang baik dan mampu menopang swasembada pangan.
Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar, menyatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan produksi beras yang kuat, bahkan mencatat surplus yang besar sepanjang periode 2025/2026.
Menurutnya, surplus beras nasional pada tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 17 juta ton, yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Indonesia.
“Produksinya luar biasa bagus. Swasembada tahun ini merupakan yang terkuat sepanjang sejarah, dan stok beras pemerintah telah mencapai 4,2 juta ton,” ujar Hermanto, Kamis (5/2/2026).
Ia menilai, dengan produksi yang tinggi serta cadangan beras pemerintah yang kuat, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga mulai memperkuat posisinya di pasar global melalui ekspor.
Namun demikian, Hermanto menegaskan bahwa capaian swasembada dan ekspor harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani. Menurutnya, keberhasilan produksi tidak boleh berhenti pada angka statistik semata.
“Ini yang kita tunggu, sehingga ke depan apa yang dilakukan petani benar-benar bisa kembali ke petani. Harus ada dampak nyata terhadap pemasukan dalam negeri dan kesejahteraan para petani,” tegasnya.
Ia berharap momentum ekspor beras ini dapat terus dijaga melalui kebijakan yang konsisten, penguatan distribusi, serta tata kelola stok yang baik sehingga swasembada beras Indonesia tetap berkelanjutan.
“Harus dijaga agar swasembada tetap berkelanjutan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan pengamat pertanian dari IPB University, Prima Gandhi. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mencatatkan ekspor beras perdana pada tahun 2026 sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi.
Menurutnya, ekspor tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan pencapaian swasembada pangan nasional serta menunjukkan keberlanjutan program peningkatan produksi pertanian yang dijalankan pemerintah pada masa Presiden Prabowo Subianto.
“Ekspor ini adalah bukti nyata bahwa swasembada beras Indonesia tidak bersifat sementara, tetapi terus berjalan secara berkelanjutan dan produktif,” katanya.
Ia menambahkan, ekspor beras memiliki nilai strategis terhadap ketahanan pangan sekaligus keseimbangan perdagangan nasional. Dengan produksi dan cadangan beras yang meningkat, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat peran di pasar pangan global.
“Lompatan produksi kita sangat jauh di atas rata-rata. Kalau stok dan pasokan dalam negeri terjaga, maka ekspor menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran Indonesia di pasar global,” jelasnya.(*)
