TEBARAN.COM,MAKASSAR – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melalui Komisi D turun langsung meninjau pengerjaan proyek jalan Paket 1 Multiyears Contract (MYC) 2025–2027 milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Hertasning, Makassar, Selasa, 3 Maret 2026. Referensi Geografis
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan proyek MYC 2025–2027.
Saat melakukan pengecekan di lapangan, Komisi D berencana mengukur ketebalan aspal menggunakan alat core drill. Namun, alat tersebut belum tersedia di lokasi karena sedang digunakan di tempat lain. Kondisi ini sempat memicu kekecewaan para legislator.
Ketua Komisi D DPRD Sulsel, Kadir Halid, menyebut hasil kunjungan lapangan mengindikasikan adanya ketidakprofesionalan dalam pelaksanaan pekerjaan, baik oleh manajemen konstruksi (MK) maupun kontraktor.
“Sepanjang 1,8 kilometer di Hertasning ini. Hasil kunjungan kami menandakan ada ketidakprofesionalan pekerjaan yang dilakukan, baik oleh MK maupun kontraktor. Setelah di lapangan, MK sendiri tidak memahami secara detail tugas dan tanggung jawabnya,” ujar Kadir.
Ia menilai, pihak MK seharusnya memahami desain perencanaan proyek, termasuk komposisi campuran aspal dan spesifikasi teknis lainnya.
Komisi D juga mempertanyakan prioritas pengerjaan, sebab terdapat titik jalan yang dinilai lebih rusak namun belum dikerjakan lebih dahulu.
Harusnya yang diprioritaskan yang paling rusak dulu. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami, dan setelah ini akan kami panggil di komisi,” tegasnya.
Proyek Paket 1 MYC ini mencakup ruas sepanjang 1,8 kilometer di Jalan Hertasning dan terhubung ke sejumlah ruas lain seperti Aroepala, Tun Abdul Razak, hingga mengarah ke wilayah Gowa dan sekitarnya.
Anggota Komisi D DPRD Sulsel, Muhammad Sadar, menjelaskan bahwa kualitas aspal ditentukan oleh campuran material dan suhu saat penghamparan.
“Campurannya harus sesuai, mulai dari aspal, batu, chipping, hingga pasir yang diolah di Asphalt Mixing Plant (AMP). Saat keluar dari AMP suhunya sekitar 150 derajat Celsius, lalu dihampar menggunakan finisher.
Menurutnya, untuk memastikan ketebalan sesuai spesifikasi, perlu dilakukan pengujian dengan metode core drill. Namun hingga kunjungan berlangsung, alat tersebut belum tersedia di lokasi.
“Untuk mengetahui apakah benar sesuai spesifikasi, harus dilakukan pengeboran inti (core). Alatnya tadi kami minta, tetapi belum ada,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel, Nihaya, menjelaskan bahwa pengerjaan di Jalan Hertasning merupakan overlay satu lapis dengan ketebalan 4 sentimeter menggunakan AC-WC (Asphalt Concrete-Wearing Course).
“Ini overlay satu lapis dengan tebal 4 sentimeter AC-WC dan masih dalam proses pengujian. Ketebalannya nanti dipastikan melalui pengukuran dengan core drill,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengawasan dilakukan oleh tim MK yang terbagi antara pengendalian di AMP dan pengawasan di lapangan, termasuk memastikan suhu dan ketebalan aspal sesuai spesifikasi.
“Semua masih dalam tahapan pengujian. Nanti dilihat hasilnya,” tutup Nihaya.
Komisi D menegaskan akan mengevaluasi hasil kunjungan tersebut dan membuka kemungkinan pemanggilan pihak MK maupun kontraktor untuk dimintai penjelasan lebih lanjut.
