Logo Header

Posting Kasus ‘3 Anak Saya Diperkosa, Polisi Hentikan Penyelidikan’, Ashanty: Biadab Semua

Ridwan
Ridwan Senin, 11 Oktober 2021 13:10
Reaksi Ashanty soal kasus "Tiga Anak Saya Diperkosa" (Foto: Instagram/@ashanty_ash)
Reaksi Ashanty soal kasus "Tiga Anak Saya Diperkosa" (Foto: Instagram/@ashanty_ash)

TEBARAN.COM, JAKARTA – Penyanyi Ashanty marah besar setelah membaca kasus dugaan pemerkosaan tiga anak usia di bawah 10 tahun oleh ayah kandungnya sendiri di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Ini terlihat melalui postingan di akun media sosial miliknya. Istri Anang Hermansyah ini memposting sebuah gambar ilustrasi anak yang tertuliskan “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor ke Polisi, Polisi Menghentikan Penyelidikan”.

Ashanty pun mengomentari kasus tidak manusiawi itu dengan penuh emosi. Dia menyebut bahwa semua yang terlibat dalam kasus tersebut biadab.

Komentar Ashanty soal kasus “Tiga Anak Saya Diperkosa” (Foto: Instagram/@ashanty_ash)

“Kalau semisal berita ini bener, biadab semua yang terlibat. Dan hukuman yang pantas untuk pelaku adalah hukuman mati,” kata Ashanty di Instagram @ashanty_ash seperti dikutip oleh Tebaran, Senin, 11 Oktober 2021.

Meski kasusnya sudah ramai dibahas beberapa hari terakhir, Ashanty mengaku baru mengatahuinya. Sebagai seorang ibu dari empat anak merasa kaget dengan kasus tersebut. Sungguh di luar nalarnya, ada seorang ayah tega memperkosa anaknya sendiri.

“Baru tadi baca, kaget, shock, marah, dan emosi. Kok bisa ayah kandung memerkosa tiga anak di bawah umur 10 tahun. Manusia punya akal kan bukan binatang. Binatang aja ngelindungin anaknya loh,” imbuh perempuan 36 tahun ini.

Ashanty mengaku tidak bisa membayangkan psikis ketiga anak yang menjadi korban. Ia pun beharap kasus ini tidak benar, dan tidak pernah terjadi, juga tak terulang di masa depan.

Ashanty kemudian berharap, bila kasus ini benar, polisi bisa menyelesaikan kasusnya dengan tuntas.

“Semoga pihak kepolisian dan yang terkait bisa mengusut kasus ini sampai tuntas dan memberikan kebenaran dan keadilan,” imbuh Ashanty.

“Maaf ya sampai posting ini. Sebagai ibu nggak akan bisa diam melihat berita begini, benar atau tidak semua harus dibuktikan seadil-adilnya,” tutur Ashanty.

Penyelidikan Dihentikan

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan menanggapi pelaporan kasus kejahatan seksual terhadap tiga anak di bawah umur yang dilaporkan oleh RS ibu korban terhadap mantan suaminya, SA (43 tahun).

Kasus tersebut terjadi di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur dan diduga melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Inspektorat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Luwu Timur.

“Ya jadi ini kasus lama yah, kasus itu tidak dilanjutkan, karena penyidik tidak menemukan cukup bukti,” ungkap E Zulpan beberapa waktu lalu.

E Zulpan mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), tidak ditemukan adanya tindak pidana pencabulan terhadap tiga bersaudara, AL (8 tahun), MR (6 tahun) dan AL (4 tahun). Sehingga, penyelidikan kasus itu diberhentikan untuk sementara sampai ditemukan bukti kuat.

“Tidak ada penetapan tersangka pada proses tersebut, karena saat pendalaman kejadiannya tidak ada bukti yang dapat mendukung tentang terjadinya kejadian tersebut,” jelasnya.

Kasus ini sebelumnya dilaporkan oleh RS di Mapolres Lutim pada 9 Oktober 2019 lalu, RS ini melaporkan atas tuduhan dugaan tindak pidana pencabulan atau sodomi yang dilakukan oleh mantan suaminya SA (43 tahun) terhadap ketiga anak kandungnya.

Adanya laporan itu, petugas saat itu langsung melakukan penyelidikan dengan diterbitkannya Sprin penyelidikan. Petugas sempat memeriksa sejumlah saksi hingga korban dilakukan Visum Et Repertum di Puskesmas Malili, Luwu Timur dan juga pemeriksaan Visum Et Repertum RS Bhayangkara Polda Sulsel dan tidak ada bukti ditemukan.

Demikian juga, hasil asesmen P2TP2A Kabupaten Luwu Timur bahwa tidak ada tanda-tanda trauma pada ketiga anak tersebut kepada ayahnya.

Begitupula hasil pemeriksaan Psikologi Puspaga P2TP2A Kabupaten Luwu Timur bahwa ketiga anak tersebut dalam melakukan interaksi dengan lingkungan luar cukup baik dan normal serta hubungan dengan orang tua cukup perhatian dan harmonis, dalam pemahaman keagamaan sangat baik termasuk untuk fisik dan mental dalam keadaan sehat.

Oleh karenanya, kata Kabidhumas kasus ini juga dihentikan dengan bukti adanya SP2HP A2 kepada pelapor. Penghentian penyelidikan ini karena tidak kuatnya alat bukti.

Menurut E Zulpan juga setelah dilakukan gelar perkara dan penelitian berkas, ternyata memang tidak ditemukan aksi tindak pidana pencabulan atau sodomi kepada para korban.

Dibuka Jika Ditemukan Bukti Baru

Bareskrim Polri mengerahkan tim asistensi terkait dengan kasus dugaan pemerkosaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengungkapkan, tim asistensi itu untuk melakukan pendampingan terhadap Polres Luwu Timur dan Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), terkait dengan proses hukum kasus tersebut.

“Hari ini tim asistensi Wasidik Bareskrim yang dipimpin seorang Kombes dan tim berangkat ke Polda Sulsel,” kata Argo kepada wartawan, Jakarta, Sabtu, 9 Oktober 2021.

Menurut Argo, tim asistensi Bareskrim Polri tersebut bakal bekerja secara profesional. Bahkan, ditegaskan Argo, apabila nantinya ditemukan bukti baru maka, Polisi bakal kembali membuka perkara tersebut.

Diketahui, Polres Luwu Timur dan Polda Sulsel menghentikan proses penyelidikan kasus itu. Pasalnya, aparat tidak menemukan barang bukti yang kuat terkait dengan perkara tersebut.

“Kalau ada bukti baru bisa dibuka kembali,” ujar mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya tersebut.

 

Ridwan
Ridwan Senin, 11 Oktober 2021 13:10
Komentar