Logo Header

Jika Pemuda Berhenti Berjuang, Sejarah Akan Mengubur IPMI SIDRAP — Milad ke-70 Sebagai Titik Kebangkitan atau Awal Kemunduran?” Oleh : Abual-Faqir.

Nuri
Nuri Jumat, 27 Februari 2026 04:40
Jika Pemuda Berhenti Berjuang, Sejarah Akan Mengubur IPMI SIDRAP — Milad ke-70 Sebagai Titik Kebangkitan atau Awal Kemunduran?” Oleh : Abual-Faqir.

TEBARAN.COM,MAROS, Tujuh dekade bukanlah perjalanan yang singkat. Ia bukan sekadar hitungan tahun, melainkan jejak keringat, pengorbanan, pemikiran, dan doa panjang dari generasi demi generasi yang telah menghidupkan semangat perjuangan IPMI SIDRAP.

Tujuh puluh tahun berarti tujuh puluh kali pergantian zaman, perubahan sosial, dan dinamika pemikiran yang terus menguji keteguhan nilai serta arah perjuangan organisasi.

Ungkapan luhur Bugis, “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata” mengandung makna mendalam: hanya kerja keras tanpa henti yang akan menghadirkan rahmat Tuhan. Filosofi ini bukan sekadar semboyan budaya, tetapi napas perjuangan yang relevan sepanjang masa. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan bukan lahir dari kemudahan, melainkan dari ketekunan yang tidak menyerah pada keadaan.

IPMI SIDRAP telah membuktikan bahwa organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang pembentukan karakter.

Dari sanalah lahir insan-insan yang belajar tentang kepemimpinan, tanggung jawab sosial, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kesadaran untuk menjadi bagian dari solusi masyarakat.

Organisasi ini telah menjadi sekolah kehidupan, tempat idealisme diuji oleh realitas, dan tempat mimpi ditempa menjadi aksi nyata.

Namun, milad bukan hanya momentum perayaan. Ia adalah titik perenungan. Pertanyaan besar yang harus dijawab bukan sekadar “apa yang telah dicapai?”, tetapi “ke mana arah perjuangan berikutnya?”. Sebab tantangan generasi hari ini jauh berbeda dibanding masa lalu.

Tantangan pertama adalah krisis identitas generasi muda. Di era digital, arus informasi bergerak begitu cepat hingga banyak pemuda kehilangan arah dan akar nilai. Budaya instan perlahan menggantikan budaya proses.

Popularitas sering dianggap lebih penting daripada integritas. Jika organisasi kehilangan fungsi pembinaan karakter, maka ia hanya akan menjadi simbol tanpa ruh perjuangan.

Tantangan kedua adalah melemahnya budaya intelektual. Diskusi digantikan debat emosional, literasi kalah oleh sensasi, dan pemikiran mendalam sering tersingkir oleh opini dangkal.

Organisasi kepemudaan menghadapi risiko menjadi sekadar wadah seremonial tanpa kontribusi gagasan nyata bagi masyarakat.

Tantangan ketiga adalah perubahan sosial-ekonomi yang cepat. Dunia kerja berubah, teknologi menggantikan banyak peran manusia, dan kompetisi semakin global. Generasi muda yang tidak adaptif akan tertinggal.

IPMI SIDRAP dituntut tidak hanya mencetak aktivis, tetapi juga melahirkan inovator, pemikir, dan pemimpin masa depan yang mampu membaca zaman.

Menghadapi tantangan tersebut, solusi pertama adalah kembali pada nilai dasar perjuangan: pembinaan karakter.

Organisasi harus menjadi ruang pembentukan mental tangguh, bukan hanya tempat mencari pengalaman organisasi. Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial harus menjadi identitas utama setiap kader.

Solusi kedua adalah menghidupkan kembali tradisi intelektual. Diskusi ilmiah, kajian sosial, pelatihan kepemimpinan, serta penguatan literasi harus menjadi agenda utama.

Pemuda yang kuat bukan hanya yang berani berbicara, tetapi yang mampu berpikir jernih dan menawarkan solusi nyata. Organisasi harus menjadi pusat lahirnya gagasan, bukan sekadar ruang kegiatan rutin.

Solusi ketiga adalah adaptasi terhadap perubahan zaman. Digitalisasi bukan ancaman, melainkan peluang. IPMI SIDRAP perlu memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengaruh positif, membangun jaringan kolaborasi, serta menciptakan program-program inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Kader harus didorong menguasai keterampilan baru tanpa kehilangan nilai budaya dan moral.

Selain itu, penting untuk memperkuat kolaborasi lintas generasi. Alumni dan kader aktif bukan dua dunia yang terpisah, melainkan satu mata rantai perjuangan. Pengalaman senior harus menjadi cahaya bagi langkah generasi muda, sementara energi pemuda menjadi penggerak perubahan yang berkelanjutan.

Milad ke-7 dekade ini sejatinya adalah panggilan untuk melanjutkan estafet perjuangan. Organisasi besar tidak diukur dari usia, tetapi dari kemampuannya tetap relevan di setiap zaman. Jika IPMI SIDRAP mampu menjaga nilai, memperkuat intelektualitas, dan beradaptasi dengan perubahan, maka masa depan organisasi ini akan tetap kokoh dan bermakna.

Perjalanan ke depan tentu tidak mudah. Akan ada perbedaan pandangan, tantangan internal, bahkan ujian eksternal yang menguji persatuan.

Namun sejarah telah mengajarkan bahwa organisasi yang bertahan bukanlah yang bebas konflik, melainkan yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

Akhirnya, milad ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Generasi hari ini memikul tanggung jawab untuk menjaga warisan nilai sekaligus menciptakan sejarah baru.

Jangan biarkan semangat hanya hidup dalam slogan; ia harus menjelma menjadi kerja nyata yang dirasakan masyarakat.

Mari menjadikan tujuh dekade ini bukan sebagai puncak perjalanan, tetapi sebagai titik kebangkitan baru. Dengan kerja keras, keikhlasan, dan persatuan, rahmat Tuhan akan selalu menyertai langkah perjuangan.

Sebab sebagaimana falsafah Bugis mengajarkan: kerja keras yang tidak pernah padam akan selalu menemukan jalan menuju keberkahan.

Selamat Milad IPMI SIDRAP. Teruslah menjadi cahaya bagi generasi, harapan bagi masyarakat, dan bukti bahwa perjuangan yang tulus tidak akan pernah sia-sia.

Nuri
Nuri Jumat, 27 Februari 2026 04:40
Komentar