Malam ketujuh Ramadhan di Masjid Nurul Jihad, Komplek IDI, terasa berenergi bagi saya. Topik dari panitia malam itu cukup menggugah: โBahaya Lidahโ.
Saya datang bukan membawa tema dari rumah. Amanah itu murni dari panitia. Namun, karena esok hari saya genap bertambah usia, tema tersebut terasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar materi ceramah, melainkan cermin diam-diam menghadap ke diri sendiri.
Seakan sebelum usia berganti angka, Allah lebih dahulu mengingatkan: berhati-hatilah dengan โSi Merahโ. Sebab pencatat dosa paling rajin bukan tangan, melainkan lidah (QS. Qaf: 18).
Usia bertambah. Kata-kata tak terhitung telah keluar dari mulut ini. Entah berapa menguatkan, entah berapa melukai tanpa sadar.
Tausiyah tentang Bahaya Lidah mengudara melalui Radio Gamasi Makassar, menjangkau pendengar melampaui dinding masjid hingga pelosok kota. Jamaah masih penuh sampai lantai dua. Pemandangan itu menghadirkan energi sekaligus rasa gentar. Membahas lidah berarti membahas sumber pahala sekaligus pintu dosa paling mudah diakses manusia.
Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan. Ia latihan menahan โSi Merahโ agar tidak liar.
Dari sekitar 8 miliar manusia di muka bumi, hampir semuanya memiliki lidah berwarna merahโkecuali mereka baru saja menyantap cumi-cumi hitam.
Merah dalam simbol universal adalah tanda bahaya. Di jalan raya, saat lampu merah menyala: berhenti. Jangan menancap gas. Jika nekat, risiko menunggu di depan.
Begitulah lidah.
Tanpa rem, ia menabrak harga diri lewat fitnah, ghibah, dan gosip. Tidak perlu sekolah tinggi jika hanya ingin mengobral keburukan orang lain.
Ujungnya, pahala puasa terkikis. Lapar dan haus tersisa, nilai menguap.
Sejarah mencatat dampak fatal lidah saat melampaui batas.
Firaun tenggelam bukan semata karena kekuasaan lalim, tetapi karena kesombongan lisan mengklaim diri sebagai tuhan tertinggi: โ๐๐ฏ๐ข ๐ณ๐ข๐ฃ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ญ ๐ขโ๐ญ๐ขโ (QS. An-Naziโat: 24). Satu kalimat pongah menjadi awal kehancuran.
Qarun tertimbun tanah setelah lisannya menafikan peran Tuhan atas limpahan harta: โ โSesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padakuโ (QS. Al-Qashash: 78). Ucapan terdengar cerdas, namun menyimpan kesombongan halus mengundang azab.
Bahkan Titanicโkapal raksasa kebanggaan peradaban modernโdidahului kesombongan manusia merasa tak mungkin tenggelam. Laut tidak berdebat. Ia menjawab dengan cara paling sunyi: menelan.
Lidah juga menjadi senjata fitnah paling keji. Zulaikah memutar fakta, menuduh Nabi Yusuf as dengan kalimat dusta demi menutup rasa dan malu. Satu ucapan menjerumuskan orang suci ke penjara bertahun-tahun. Fitnah lahir dari lisan, dampaknya menjerat kehidupan.
Imam Al-Syafiโi memberi resep singkat namun tajam: jika ingin berbicara, pikirkan. Bila membawa manfaat, ucapkan. Bila mudarat, diam lebih selamat.
Namun, saat lidah lepas kendali, logika ikut bengkok.
Alkisah pada masa SDSB tahun 1980-an, seorang pemuda mendatangi ustaz. Bukan bertanya tentang taubat, ia berbisik,
Ustazโฆ minta nomor.โ
Sang ustaz tersentak. Emosi spontan keluar.
โAnjing!โ
Pemuda itu tidak tersinggung. Ia justru berpikir serius.
โShio Anjingโฆโ gumamnya yakin.
Nomor dipasang.
Tembus. Ia memperoleh kemenangan.
Kabar menyebar cepat: โLidah ustaz keramat! Sekali bicara langsung jadi kode keberuntungan!โ
Padahal keluar bukan karamah, melainkan kemarahan.
Pekan berikutnya ia datang lagi.
โUstazโฆ nomor lagi dong.โ
Kesabaran habis. Sepatu ukuran besar melayang, mendarat persis di pipi. Bekas tapak merah โMacellaโ Bonynyak Lambaceโโ tampak jelas.
Ia berlari menuju markas (basecamp) tempat mereka berkumpul.
โDapat nomor?โ, kata temannya.
Ia menggeleng sambil meringis kesakitan, menahan denyut di pipinya.
โHanya hantaman sepatu Kasogi.โ jawabnya singkat.
Teman-temannya meneliti pipi pemuda itu dengan saksama, seolah sedang membaca prasasti kuno.
Ini angka 4โฆ dan ini angka 5โฆ Jelas sekali, 45!โ
Nomor pun dipasang.
Secara tidak masuk akal, angka tersebut kembali tembus. Hadiah besar diraih. Semakin terkenallah ustaz itu di penjuru desa.
**
Di hari kelahiran ini, ketika doa dan ucapan mengalir, saya kembali merenung. Betapa dahsyatnya lidah manusia. Satu kalimat mampu menguatkan jiwa. Satu kalimat pula sanggup merobohkan martabat.
Jika kemarahan saja dapat disalahartikan sebagai keberuntungan, apalagi doa tulus dari lisan bersih.
Ramadhan melatih perut menahan lapar. Ia juga mendidik lidah menahan gejolak.
Usia bertambah bukan sekadar angka. Ia seharusnya menambah kehati-hatian dalam berkata. โSi Merahโ itu kecil, tak bertulang, mudah bergerakโnamun dampaknya bisa lebih tajam daripada pedang.
Ukuran terbesar bukan sepatu 45 yang membekas di pipi,
melainkan bekas kata-kata di hati sesama.
Semoga usia bertambah membuat lidah semakin ringan berzikir, semakin berat menyakiti, dan semakin takut menyimpang.
Sebab keselamatan puasa, kehormatan diri, serta kedamaian umat sering kali ditentukan bukan oleh kekuatan tangan, melainkan oleh kendali โSi Merahโ di dalam mulut kita.
๐๐๐๐ฎ, ๐ ๐๐๐ฆ๐๐๐๐ง ๐๐๐๐ ๐/๐๐ ๐ ๐๐๐ซ๐ฎ๐๐ซ๐ข ๐๐๐๐. ๐๐
ย
ย
