TEBARAN.COM,MAROS — Usahamu mencari aib dalam dirimu lebih baik daripada usahamu menyingkap rahasia gaib yang Allah hijab darimu.” Hikmah Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari ini bukan sekadar nasihat lembut, tetapi tamparan keras bagi jiwa yang tertipu oleh rasa ingin tahu.
Manusia hari ini sibuk membahas takdir, tanda akhir zaman, rezeki tersembunyi, dan rahasia langit, seolah masalah utamanya adalah apa yang Allah sembunyikan. Padahal bencana terbesar justru ada di dalam dirinya sendiri: hati yang keras, ibadah tanpa keikhlasan, lisan yang melukai, dan dosa yang dianggap biasa.
Allah telah mengingatkan: “Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19). Inilah tragedi terbesar manusia — mengenal banyak hal, kecuali mengenal kerusakan jiwanya sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya.” (HR. Bukhari).
Namun kita justru melihat dosa seperti debu, sementara sibuk menebak perkara ghaib yang bukan urusan kita.
Engkau ingin cahaya kasyaf, tetapi masih nyaman dalam maksiat. Engkau berharap ketenangan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh bertaubat.
Ketahuilah, hijab terbesar bukanlah rahasia Allah yang tertutup, melainkan hatimu yang menolak tunduk. Selama ego masih engkau pelihara, sejauh itu pula engkau dari hidayah.
Mulailah membongkar dirimu sendiri — sebelum Allah membongkarnya di hadapan seluruh manusia pada hari penghisaban
