Logo Header

Kupas Makna Kata ‘Kalembo Ade’ Bima, Mahasiswa UIN Alauddin Ini Raih Juara lll KTI Nasional

Ridwan
Ridwan Jumat, 17 September 2021 19:45
Mahasiswa Prodi Sastra dan Bahasa Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar, Muhammad Al-Anhar Al-Islami.
Mahasiswa Prodi Sastra dan Bahasa Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar, Muhammad Al-Anhar Al-Islami.

TEBARAN.COM, MAKASSAR – Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Muhammad Al-Anhar Al-Islami meraih juara nasional setelah berhasil memprenstasikan makna kata ‘Kalembo Ade bagi masyarakat Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Mahasiswa semester Vll Prodi Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) ini meraih juara lll di ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) ADIA Fest di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kegiatan nasional ini diikuti Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia yang dilaksanakan oleh Asosiasi Dosen Ilmu-Ilmu Adab (ADIA) PTKIN se-Indonesia yang gelar secara online yang dimulai Agustus hingga September 2021.

Sementara pengumuman hasil lomba dihealtkan bersamaan dengan pembukaan Annual International Conference on Language, Literature and Media (AICOLLIM) secara virtual, Kamis, 16 September 2021.

Anhar sapaan Muhammad Al-Anhar Al-Islami mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilakukan dua tahap, yakni tahap seleksi berkas pada tanggal 28 Agustus dan tahap presentasi finalis tanggal 13 September 2021.

“Yang masuk ke tahap presentasi finalis ada 6 finalis. 2 finalis dari UIN Alauddin, UIN Maulana Malik Ibrahim, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya,” kata Anhar, kader aktif Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) RITMA UIN Alauddin, Kamis, 16 September 2021.

“Satu finalis dari UIN Alauddin Makassar itu harapan dua,” tambahnya.

Dia menyebut, selain lomba KTI juga ada lomba cerpen, musikalisasi puisi, film pendek dan tari kreasi. Anhar dalam KTI-nya mengangkat tema “Implementasi Nilai Spiritual pada Kata Kalembo Ade dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Bima”.

Pria kelahiran Bima, 2 Maret 1999 ini mengungkapkan alasan mengangkat tema soal ‘Kalembo Ade’. Menurutnya karena di samping frasa ‘Kalembo Ade’ sudah menjadi frasa khas dan identitas otentik bagi masyarakat Bima.

“Kata ini secara semantik dan pragmatis sangat menarik. Di luar arti secara harfiah, kata Kalembo Ade sangat kalis dengan nilai spiritual, corak keagamaan dan nilai emosional yang positif bagi kehidupan sosial dan beragama masyarakat Bima,” jelasnya.

Dalam tulisannya, ia menjelaskan beberapa representasi filosofi penggunaan kata Kalembo Ade serta dikaitkan pada beberapa nilai akhlaku yang terkandung dalam Al-Qur’an,” tandasnya.

Kata Kalembo Ade itu, lanjut Anhar, sebenarnya bisa dibilang kata ajaib, banyak arti yang tersirat. Namun, dalam tulisannya dia menggeneralisir memiliki empat bentukan makna. Yakni, ungkapan maaf, ungkapan belasungkawa, ungkapan persetujuan dan bentuk penolakan.

“Tidak terbatas Kalembo Ade bisa berarti terima kasih; banyak interpretasi. Implementasinya ke beberapa nilai seperti sifat tidak mudah putus asa, pengingat agar tidak tergesa-gesa, implementasi teliti dan tekun dalam bekerja, implementasi kesabaran, bentuk sikap tawadhu dan ajang tegur sapa dan silahturahmi,” jelas lagi Anhar.

Namun saat mempresentasi kata Kalembo Ade, dia sempat kesulitan menjelaskan konteks bahasa ke dalam tulisan. Apa lagi waktu hanya 10 menit. Meski demikian, ia mampu melaluinnya dan berhasil meraih juara mengalahkan peserta dari PTKIN lainnya.

“Alhamdulillah haru dan bangga pak, tidak disangka. Karena terus terang saya sedikit kesulitan pada saat presentasi, menjelaskan konteks bahasa kedalam tulisan. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar, terlebih saya bangga mengenalkan kata ajaib bahasa daerah saya pada daerah lain, dengan cara ini,” tutur Anhar.

Ke depan, dia berharap bisa lebih banyak lagi mengeksplorasi mengenai kata-kata khas dalam bahasa lokal, bahasa Bima. Dan ini kata dia bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa yang lain supaya bisa lebih cinta budaya dalam frame moderasi beragama.

“Ini menjadi sebuah keharusan mengupas jejak dan mengembalikan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam kata-kata khas suatu tradisi dan buadaya masyarakat tertentu agar tidak hanya menjadi otentik secara harfiah namun juga nilainya dapat diimplementasikan dalam kehidupan keseharian penuturnya secara luas dan mendalam,” pungkas Anhar.

Ridwan
Ridwan Jumat, 17 September 2021 19:45
Komentar