Andai Tuanta Salamaka Tausiyah di Masjidmu Kini Penulis: Muliadi Saleh (Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran)
TEBARAN.COM,JAKARTA — Di tanah Gowa yang lembap oleh doa dan jejak para pejuang. Dari sana lahir seorang anak zaman yang kelak menjelma cahaya lintas benua. Namanya Yusuf. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Tuanta Salamaka. Sang guru yang diselamatkan dan menyelamatkan. Ia bukan sekadar ulama. Ia adalah jembatan antara langit dan bumi, antara ilmu dan amal, antara zikir dan perlawanan.
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani Lahir pada 1626 di lingkungan istana Tallo, ia tumbuh dalam atmosfer ilmu dan adab. Namun jiwanya tak betah dibatasi dinding istana. Ia berlayar secara harfiah dan ruhaniah. Dari Gowa ke Banten, dari sana menuju Haramain. Di Makkah dan Madinah, ia meneguk ilmu dari para masyayikh besar. Mendalami fikih, tauhid, dan tasawuf. Ia bersuluk dalam tarekat,
mematangkan batin, menajamkan pandangan, hingga zikirnya tak lagi hanya di lisan, tetapi menjadi napas kehidupan.
Sekembalinya ke Nusantara, ia tak memilih diam. Ia memilih sejarah. Di tengah pergolakan melawan VOC, ia berdiri bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Baginya, melawan penjajahan bukan sekadar politik; itu adalah konsekuensi tauhid. Ketika kezaliman merampas martabat manusia, maka membela adalah bagian dari ibadah.
Ia ditangkap. Dibuang. Diasingkan jauh dari tanah kelahiran—ke Ceylon, lalu ke ujung selatan Afrika. Di Cape Town, ia tak memaki takdir. Ia mengubah pengasingan menjadi pengajaran. Ia membangun komunitas, menanamkan iman di tengah keterasingan. Dari tangannya, Islam bersemi di tanah yang asing, tumbuh di antara badai dan sunyi.
Betapa luas cakrawala jiwanya. Ia sufi yang tak lari dari dunia, tetapi menata dunia dengan cahaya batin. Ia faqih yang tak kering oleh teks, tetapi menghidupkan teks dengan cinta. Ia pejuang yang tak mabuk kuasa, tetapi teguh oleh kesadaran Ilahiah. Karyanya dalam tasawuf dan etika spiritual menekankan penyucian hati, kesadaran akan kehadiran Allah, dan tanggung jawab sosial sebagai buah dari makrifat.
Karena itu, ia dihormati lintas negeri. Di Indonesia, ia dikenang sebagai pahlawan nasional. Di Afrika Selatan, ia disebut salah satu perintis Islam. Namanya diabadikan pada jalan, masjid, dan ingatan kolektif umat.
Kini, bayangkan ! Andai Tuanta Salamaka berdiri di masjidmu. Dengan sorban sederhana dan mata yang bening oleh zikir, ia mungkin tak akan memulai dengan retorika yang membakar. Ia akan bertanya pelan: Sudahkah tauhid membebaskanmu dari takut selain kepada-Nya?
Ia akan mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesombongan, dan zikir tanpa kepedulian sosial adalah pelarian. Ia akan berkata bahwa sujud bukan sekadar menempelkan dahi, tetapi menundukkan ego. Bahwa jihad bukan hanya di medan perang, tetapi di medan batin—melawan tamak, riya, dan cinta dunia berlebihan.
Dan mungkin, di akhir tausiyahnya, ia akan berdoa lirih:
Agar kita tak hanya menjadi umat yang ramai di masjid, tetapi sepi dari makna. Agar kita tak hanya bangga pada sejarah, tetapi melanjutkan keberanian moralnya.
Tuanta Salamaka telah lama berada di sisiNya. Namun ruh perjuangannya tak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam setiap hati yang memilih kebenaran meski harus tersisih, dalam setiap jiwa yang memadukan tasawuf dan keberpihakan, dalam setiap generasi yang percaya bahwa iman harus membebaskan
Andai ia tausiyah di masjidmu kini—barangkali yang berubah bukan dunia.
Tetapi hatimu.(*)
- 1
- 2
- 3
- 4
