Logo Header

Bendung Paham Radikalisme, Klinik Redakalisasi UIN Alauddin Adakan Webinar

Ridwan
Ridwan Sabtu, 11 September 2021 18:39
Klinik Deradikalisasi UIN Alauddin Makassar bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pengurus Besar Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) dan Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah Indonesia (ICAT) mengadakan Webinar, Sabtu, 11September 2021.
Klinik Deradikalisasi UIN Alauddin Makassar bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pengurus Besar Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) dan Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah Indonesia (ICAT) mengadakan Webinar, Sabtu, 11September 2021.

TEBARAN.COM, MAKASSAR – Klinik Deradikalisasi UIN Alauddin Makassar bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pengurus Besar Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) dan Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah Indonesia (ICAT) mengadakan Webinar.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Kegiatan itu dilaksanakan dalam jaringan melalui Aplikasi Via Zoom Meeting selama dua hari, Sabtu sampai Minggu, 11-19 September 2021

Hadir dalam kesempatan itu sebagai narasumber Ketua Umum PB DDI AGH Syamsul Bahri Galigo Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Polisi R Ahmad Nurwakhid, Dr Abdul Muid Nawawi, dan Dr H Syahrullah.

Kemudian pada sesi ke dua, narasumber yakni Dr Hj Nurlaylah Abbas. Sekretaris Jenderal DDI Wal Irsyad AGH Helmi Yali Yafie, Dr H Andi Aderus.

Dalam materinya, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid menyampaikan, aktivitas yang mengatasnamakan Radikalisme merupakan bertentangan dengan negara dan agama.

“Radikalisme dan terorisme adalah tindakan menghancurkan ummat Islam, memecah belah persatuan bertentangan UU, bineka tunggal IKA oleh karena itu radikalisme adalah musuh bersama, musuh negara dan agama,” katanya.

Ia mengungkapkan, fungsi dari BNPT yakni pencegahan pertama kesiapan siagaan nasional, idiologi yang menyimpan masyarakat Indonesia.

“Meskipun moderat masih bisa terpapar radikalisme, oleh karena itu vaksin dengan pendekatan agama. Kelompok teroris selalu membenturkan agama dan budaya dan seterusnya,” bebernya.

Ia menjelaskan, di media sosial penyebaran paham radikalisme sangat massif. Oleh karena itu yang dilakukan adalah kontra idiologi, kontra narasi melawan radikalisme di media sosial bekerjasama dengan Komimfo RI.

‘Tujuannya memutus media jalur propoganda dan kaderisasi. Penanggulangan itu haru melibatkan seluruh elemen terutama civitas akademika, dan sosial sosiaty,” paparnya.

“Jadi kami memiliki Pancasila, kami memiliki kearifan lokal silaturahmi dan gotong royong. Bangsa kita bangsa yang kaya, gotong royong, menjaga persatuan dan toleransi,” pungkasnya.

Ridwan
Ridwan Sabtu, 11 September 2021 18:39
Komentar