Puasa dan Pangan Kita: Jalan Spiritual Menuju Kepedulian Sosial
Penulis : Muliadi Saleh
(Saleh Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial)
TEBARAN.COM,JAKARTA-Puasa sejatinya adalah menahan diri. Dalam ajaran Islam , puasa bukan sekadar menunda makan dan minum, melainkan jalan spiritual menuju takwa. Sebuah keadaan batin yang membuat hubungan manusia dengan Allah SWT, sesama, dan alam semesta mencapai tingkat harmoni yang paling ideal. Teladan itu diwariskan oleh baginda Rasulullah SAW bahwa lapar bukan penderitaan, melainkan guru kebijaksanaan.
Di situlah pangan memperoleh makna baru. Bagi mereka yang berpuasa, makanan bukan sekadar komoditas biologis. Ia berubah menjadi simbol syukur, kesadaran batas, dan penghormatan terhadap rezeki. Sepiring nasi saat berbuka terasa lebih bermakna karena ia datang setelah kesabaran panjang; seteguk air menjadi doa yang cair, mengalirkan rasa cukup dalam jiwa.
Namun spiritualitas Puasa tidak berdiri di ruang hampa. Ia membutuhkan sistem pangan yang terjaga berupa ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Negara memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk memastikan bahwa masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa dihantui kelangkaan atau gejolak harga. Dalam konteks ini, peran bersama antara pemerintah dan masyarakat menjadi strategis — menjaga produksi, distribusi, stabilitas harga, hingga keamanan pangan.
Pemerintah, melalui Menteri Pertanian A. Amran Sulaiman menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kebutuhan pangan selama Ramadan. Pemerintah memastikan stok pangan cukup, distribusi terjaga, dan kualitas bahan pangan tetap baik sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan khusyuk.
Ketika negara hadir menjaga pangan, puasa menemukan dimensi sosialnya. Ibadah tidak lagi sekadar relasi vertikal manusia dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal antarmanusia. Ketenteraman pangan memungkinkan umat beribadah dengan khusyuk, keluarga berbuka tanpa kecemasan, dan masyarakat merajut kebersamaan dalam suasana yang harmonis.
Tetapi tanggung jawab tidak berhenti pada pemerintah. Kaum muslimin yang berpuasa juga dipanggil menjaga kesadaran bahwa bumi dan isinya adalah amanah. Puasa mengajarkan konsumsi secukupnya. Tidak berlebihan saat berbuka. Tidak mubazir dalam belanja pangan. Tidak rakus dalam memanfaatkan sumber daya. Dari sini lahir etika ekologis yakni menjaga air, tanah, energi, dan rantai pangan agar tetap lestari.
Sikap hemat dan berbagi menjadi ruh sosial puasa. Lapar yang dirasakan sendiri membuka empati terhadap mereka yang kekurangan. Tradisi berbagi takjil, sedekah pangan, hingga kepedulian terhadap tetangga adalah ekspresi nyata dari ukhuwah Islamiyah, persaudaraan keimanan. Lebih luas lagi, ia menjelma ukhuwah wathaniyah, solidaritas kebangsaan, di mana perbedaan agama dan latar belakang tidak menghalangi kepedulian sosial.
Di sinilah bangsa menemukan momentum persatuan. Negara dan rakyat berjalan seirama. Pemerintah menjaga pasokan pangan, rakyat menjaga etika konsumsi. Produksi meningkat, distribusi lancar, konsumsi bijak, solidaritas sosial menguat. Puasa menjadi energi moral bagi pembangunan pangan yang berkeadilan.
Kita patut bersyukur bahwa ketahanan pangan terus diupayakan melalui inovasi pertanian, modernisasi distribusi, serta penguatan cadangan pangan nasional. Tentu masih ada tantangan, tetapi optimisme lahir dari kerja kolektif — petani yang tekun, pedagang yang jujur, birokrat yang berdedikasi, serta masyarakat yang semakin sadar konsumsi.
Puasa akhirnya mengajarkan harmoni antara spiritualitas dan materialitas, antara ibadah dan kebijakan publik, antara manusia dan alam. Ketika pangan terjaga, konsumsi terkendali, dan solidaritas sosial tumbuh, kita bergerak menuju cita ideal yang sering disebut para ulama: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik, sejahtera, dan dinaungi ampunan Tuhan).
Maka mari menyambut puasa dengan kesadaran utuh. Menghargai pangan sebagai nikmat, menjaga lingkungan sebagai amanah, memperkuat silaturahmi sebagai energi sosial. Negara bekerja, rakyat mendukung; pemerintah menjaga pangan, masyarakat menjaga etika konsumsi. Dari situ lahir masyarakat yang tidak hanya kenyang secara fisik, tetapi juga matang secara spiritual.
Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah peradaban rasa cukup. Dan dari rasa cukup itulah ketakwaan bertumbuh, persaudaraan menguat, serta harapan akan masa depan bangsa menemukan pijakannya
- 1
- 2
- 3
- 4
