TEBARAN. COM, MAROS — Andi Amran Sulaiman bukan sekadar teknokrat pertanian, ia representasi model kepemimpinan decisive leadership dalam sektor pangan Indonesia. Di tengah ancaman krisis global, impor yang menekan neraca dagang, dan melemahnya kedaulatan pangan, Amran tampil dengan gaya kepemimpinan lugas, tegas, dan berbasis eksekusi cepat. Kepemimpinannya mengembalikan paradigma lama: pertanian bukan beban negara, tetapi jantung kedaulatan bangsa.
Gaya kepemimpinan Amran dapat dikategorikan sebagai Transformasional-Eksekutorial—perpaduan visi besar, kontrol operasional, dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Ia tidak terjebak pada ritme birokrasi yang lamban. Dalam manajemen kepemimpinannya, perintah harus linear dengan tindakan. Di Kementerian Pertanian, ia memotong mata rantai birokrasi yang tidak produktif, mempercepat distribusi benih, pupuk, dan alat mesin pertanian (alsintan). Pendekatannya bukan hanya normatif, tetapi struktural: pemberdayaan petani di lapangan, penguatan ekosistem, dan pemberantasan praktik rente pangan.
Ketegasan Amran terlihat dalam kebijakan anti-mafia pupuk dan impor ilegal. Ia memerintahkan audit dan penertiban distribusi pupuk bersubsidi secara langsung. Ini mencerminkan gaya Commanding Leadership yang terukur, bukan otoritarian tanpa basis data. Dalam teori kepemimpinan publik, ketegasan seperti ini menjadi syarat policy enforcement yang efektif—negara hadir bukan hanya membuat regulasi, tetapi memastikan kepatuhan.
AAS juga menunjukkan karakter kepemimpinan transformasional ketika ia menanamkan keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri dalam produksi pangan. Ia menggerakkan program UPSUS (Upaya Khusus) Padi, Jagung, Kedelai, yang menarget percepatan tanam dan panen dengan dukungan logistik masif. Kepemimpinan transformasionalnya memantik optimisme kolektif. Hasilnya? Produksi padi dan jagung meningkat signifikan, impor jagung untuk pakan ternak ditekan, bahkan Indonesia sempat mengekspor jagung. Ini bukan keberhasilan parsial, tetapi bukti bahwa kepemimpinan berbasis eksekusi bisa menggeser struktur ketergantungan.
Secara akademis, pendekatan Amran selaras dengan model Agricultural Policy Management berbasis 3 pilar: availability (ketersediaan), accessibility (keterjangkauan), dan stability (stabilitas). Ia memperluas irigasi, mendorong cetak sawah baru, mempercepat bantuan pompa air untuk lahan kering, dan mendorong modernisasi melalui mekanisasi pertanian. Dalam konteks manajemen sumber daya publik, Amran menggeser pendekatan administrative leadership menjadi operational leadership—di mana indikator keberhasilan bukan pada laporan kertas, tetapi pada panen di sawah dan lumbung petani.
Yang membedakan Amran dari banyak pemimpin sektor publik lainnya adalah keberanian mengambil risiko kebijakan yang tidak populer di kalangan kartel, tetapi berpihak pada petani dan negara. Ia tidak memimpin dari balik meja. Ia memimpin dari tengah sawah, gudang pupuk, hingga ruang negosiasi kebijakan yang keras. Dalam literatur kepemimpinan, model seperti ini disebut frontline leadership—pemimpin yang hadir di titik masalah, bukan di hilir polemik.
Swasembada pangan bukan mimpi, ia adalah konsekuensi logis dari kepemimpinan yang jelas visinya, cepat eksekusinya, dan tegas penegakannya. Kepemimpinan Amran menegaskan satu hal: Indonesia tidak butuh pemimpin yang banyak bicara, Indonesia butuh pemimpin yang banyak bekerja. Jika model kepemimpinan ini konsisten dipertahankan, maka kedaulatan pangan Indonesia bukan hanya capaian sementara, tetapi masa depan permanen bangsa.
