Logo Header

3 Puasa Sunnah Jelang Hari Raya Idul Adha Lengkap Niat dan Amalan Lainnya

Ridwan
Ridwan Minggu, 18 Juli 2021 04:10
Wanita memanjatkan doa
Wanita memanjatkan doa

TEBARAN.COM, JAKARTA – Kementerian Agama Republik Indonesia telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1442 H jatuh pada tanggal 11 Juli 2021. Hal ini disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada saat sidang isbat, Sabtu 10 Juli 2021. Sehingga, pelaksanaan Hari Raya Idul Adha pada 20 Juli 2021.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

“Terdapat laporan hilal terlihat atau teramati. Sehingga secara mufakat 1 Dzulhijjah 1442 H, ditetapkan jatuh pada hari Ahad, 11 Juli 2021. Dan dengan begitu Hari Raya Idul Adha akan jatuh pada 20 Juli 2021,” ujarnya.

Walaupun begitu, akibat dari pandemi yang semakin meradang, sebagian besar wilayah di Indonesia tidak bisa melaksanakan salat id di mesjid. Meski begitu, hal tersebut tidak perlu menurunkan semangat beribadah kita dalam menyambut salah satu hari besar Islam tersebut.

Sebelum memasuki Hari Raya Idul Adha, ada 3 puasa yang hanya bisa dilaksanakan pada saat Bulan Dzulhijjah. Selain itu, terdapat pula amalan-amalan lain yang dapat dilakukan dalam menyambut hari raya tersebut.

1. Melaksanakan tiga puasa sunnah

Pada Bulan Dzulhijjah terdapat 3 puasa sunnah yang dianjurkan sebelum merayakan Idul Adha.
Pertama, puasa dzulhijjah. Puasa ini dilaksanakan dari 1-7 Dzulhijjah berarti dalam penanggalan masehi 11-17 Juli 2021.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam An-Nasa’i, berkata:

“Dari Hafshah RA : Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW yaitu: puasa Asyura (10 Muharram), puasa 10 hari bulan Dzulhijjah, puasa 3 hari setiap bulan, dan sholat 2 rakaat sebelum sholat fajar (subuh).”

Adapun niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri dzilhijjah sunnatallillahi ta’ala
“Aku berniat puasa dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

Kedua, puasa tarwiyah. Puasa ini dilaksanakan pada tanggal 8 dzulhijjah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ali Al-Muairi, At-Thibbi, Abu Sholeh, dan Ibnu Abbas berisi keutamaan puasa tarwiyah.

“Barangsiapa berpuasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan, untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah seperti puasa dua tahun.”

Adapun niatnya :
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatallillahi ta’ala
“Aku berniat puasa tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

Ketiga, puasa arafah yang dilaksanakan tepat satu hari sebelum pelaksanaan Hari Raya Idul Adha.
Dalam sebuah hadis mengungkapkan keutamaan puasa ini yakni menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Rasulullah SAW bersabda.

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

2. Memperbanyak zikir

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang istimewa. Dalam bulan tersebut umat muslim melaksanakan ibadah haji dan kurban.

Selain itu, ketika memasuki 10 hari awal Bulan Dzulhijjah kita juga dianjurkan untuk memperbanyak zikir.

Dalam Kitab Al-Adzkar karangan Imam An-Nawawi menjelaskan memperbanyak dzikir pada saat 10 hari awal Bulan Dzulhijjah disunnahkan daripada hari-hari yang lain. Diantara 10 hari sangat disunnahkan memperbanyak dzikir pada Hari Arafah.

3. Menggaungkan Takbir

Pada malam hari raya menggaungkan kalimat takbir termasuk sunnah karena itu termasuk mengagungkan dan memuliakan hari raya tersebut. Dalam Kitab Raudhatut Thalibin menjelaskan:

فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ
Artinya: Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.

Penulis : Susan Alwia
Ridwan
Ridwan Minggu, 18 Juli 2021 04:10
Komentar