Logo Header

Indonesia Harusnya Miliki Kurikulum Internet

Ridwan
Ridwan Kamis, 10 Juni 2021 08:40
Ilustrasi Media Indonesia
Ilustrasi Media Indonesia

TEBARAN.COM, JAKARTA – Kemendikbud Ristek, Kementerian Sosial dan Kementerian Komunikasi dan Informatika seharusnya membuat kurikulum internet aman dan sehat.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Begitulah yang disarankan Pemimpin lembaga riset siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha.

Pentingnya kurikulum internet berkaitan dengan para pengguna media sosial yang dinilai masih kurang sopan di dunia maya.

“Hasil riset Microsoft menilai netizen Indonesia kurang sopan di dunia maya,” katanya melalui aplikasi pesan kepada dikutip dari Antara, Kamis 10 Juni 2021.

Sehingga Hari Media Sosial Nasional yang dicetuskan sejak 2015 dan diperingati setiap tanggal 10 Juni tepat hari ini dijadikan sebagai momentum introspeksi diri.

“Warganet Indonesia bisa menjadikan Hari Media Sosial sebagai momentum untuk introspeksi dalam menggunakan media sosial,” katanya.

Menurut dia, hasil riset Microsoft yang menyebut netizen Indonesia kurang sopan di dunia maya tidaklah mengejutkan mengingat belum ada kurikulum internet sehat dan aman di jenjang pendidikan mana pun.

Dia mengatakan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Sosial, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika semestinya menggalakkan edukasi mengenai pemanfaatan internet secara aman dan sehat pada masyarakat.

“Edukasi ini penting, tidak hanya terkait dengan tata krama berinternet, tetapi juga bagaimana berinternet yang aman,” kata Pratama.

Tanpa kehati-hatian dan tata krama dalam memanfaatkan media sosial, ia menjelaskan, warganet bisa kena jerat pidana jika terbukti melanggar ketentuan yang tertuang dalam Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan peraturan perundang-undangan lainnya.

Pratama mengutip data We Are Social pada Januari 2021 yang menunjukkan pemakai media sosial di Tanah Air mencapai 170 juta orang.

Menurut dia, YouTube yang biasanya sudah terpasang di telepon seluler Android tercatat sebagai aplikasi yang paling banyak digunakan disusul WhatsApp, aplikasi pesan di telepon pintar.

Hari Media Sosial ini adalah hari yang dicetuskan oleh Handi Irawan D yang sebelumnya telah sukses dengan Top Brand Award, Hari Marketing Indonesia, dan Hari Pelanggan Nasional.

Handi Irawan D sendiri merupakan seorang pengusaha dari Solo, Jawa Tengah, yang memulai kiprahnya sebagai pakar pemasaran melalui Frontier Consulting Group. Handi juga dikenal sebagai content and knowledge based speaker terbaik di Indonesia.

Mengapa Hari Media Sosial Perlu Diperingati?

Esensi dari Hari Media Sosial adalah perilaku bijak dalam menggunakan media sosial, baik itu dalam membuat ataupun membagikan konten. Hari Media Sosial sendiri bertujuan mengedukasi para warganet di Indonesia.

Melalui Hari Media Sosial, netizen dan pelaku usaha kembali diingatkan untuk memanfaatkan media sosial secara positif.

Caranya, dengan membagikan berita-berita yang menginspirasi, memotivasi dan ajakan untuk membuat kehidupan jadi lebih baik kepada anggota keluarga, sahabat, komunitas dan juga para pelanggan.

“Mari kita dorong penggunaan media sosial untuk membangun persahabatan, menjaga persatuan, memotivasi dan berbagi kebaikan antar sesama. Berikan motivasi bagi sahabat yang sedang jatuh dan sedih agar dapat bangkit kembali. Berikan dorongan kepada teman yang sedang berjuang dalam menuju kesuksesan. Berikan ucapan terima kasih dan bagikan cinta kepada sesama,” tulis Frontier.

Jaga Privasi di Media Sosial

Privasi juga jadi hal yang penting di media sosial. Pakar keamanan siber dari CISSReC Doktor Pratama Persadha mengingatkan pengguna media sosial untuk melakukan verifikasi dua langkah dan mematikan layanan pihak ketiga pada akun medsos guna mencegah peretasan data pribadi.

“Perihal keamanan siber ini sama sekali belum ada edukasi ke bawah,” kata Pratama Persadha, Selasa (7/6/2021), seperti dikutip Antara News dalam rangka Hari Media Sosial di tengah pandemi COVID-19, tepatnya jatuh pada tanggal 10 Juni 2021.

Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC ini mengemukakan, wabah yang melanda tanah air sejak Maret 2020 telah mendorong masyarakat untuk melek teknologi. Namun, sayangnya masih minus edukasi tentang sisi keamanannya.

Dalam memakai WhatsApp dan media sosial, misalnya, disarankan oleh Pratama agar pengguna medsos sebisa mungkin semua akun sudah ditambahkan verifikasi dua langkah agar tidak mudah diretas atau diambil pihak lain.

Ia lantas menjelaskan cara mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah di WhatsApp, yakni pilih ikon tiga titik di pojok kanan atas aplikasi WA, kemudian pilih menu Settings, masuk ke pengaturan Account, pilih two step verification, bikin personal identification number (PIN) 6 digit angka, lalu masukkan juga alamat surel (email).

Pratama yang pernah sebagai pejabat Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) yang kini menjadi BSSN mengutarakan bahwa tingkat keamanan memang bergantung pada dua pihak, pihak penyedia platform dan pihak user.

Oleh karena itu, lanjut dia, dari sisi media sosial sebenarnya akan sangat aman bila sudah dilakukan verifikasi dua langkah. Namun, dari sisi platform video conference sempat banyak keluhan, seperti zoom yang mudah diretas.

“Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa kelemahan sudah berusaha ditutup,” kata Pratama yang juga dosen pascasarjana pada Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Ridwan
Ridwan Kamis, 10 Juni 2021 08:40
Komentar