Logo Header

Stafsus Menag Sebut Ada 10 Pasutri di Makassar Siap Bom Bunuh Diri

Ridwan
Ridwan Selasa, 08 Juni 2021 08:31
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis dan Staf Khusus Menteri Agama, Mohammad Nuruzzaman (Foto: Ist)
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis dan Staf Khusus Menteri Agama, Mohammad Nuruzzaman (Foto: Ist)

TEBARAN.COM, MAKASSAR – Staf Khusus Menteri Agama (Menag) Mohammad Nuruzzaman menyebut ada 10 pasangan suami istri atau Pasutri di Kota Makassar, Sulsel siap melakukan bom bunuh diri.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Hal ini disampaikan Nuruzzaman saat membawakan kuliah umum di UIN Alauddin Makassar tema “Peta Jalan Pencegahan Radikalisme di Indonesia” di Gedung Pusat Pelatihan Guru (PGG), Senin, 7 Juni 2021.

Awalnya Nuruzzaman enggan menyebutkan total Pasutri di Makassar yang siap melakukan bom bunuh diri. Namun pada akhirnya juga dia menyebutkan jumlahnya.

Ini disampaikan Nuruzzaman saat menyinggung soal Pasutri yang melakukan bom bunuh di Gereja Katedral Makassar beberapa waktu lalu. Dan dia bersama Menag Yaqut Cholil Qoumas sempat mendatangi lokasi.

Pada saat itu dia mengaku terkejut mengatahui bahwa bukan hanya satu pasangan suami istri di Makassar yang sudah siap melakukan bom diri di Makassar.

“Ternyata bukan hanya satu pasangan. Satu pasangan artinya dua orang, yang siap bom bunuh diri di Makassar, tetapi lebih lima pasangan. Ya saya sebutkan ada 10 pasangan yang sudah siap bom bunuh diri,” katanya di hadapan para pimpinan dan dosen UIN Alauddin.

Dia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya itu adalah sebuah fakta. Bahkan dikatakan, Kota Makassar merupakan inkubasi terorisme.

“Medan jihadnya menurut mereka adalah Poso, tetapi inkubasinya ada di Makassar,” tegas Nuruzzaman, Eks Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra.

Murid KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya ini juga menyampaikan bahwa penyebaran paham atau ideologi terorisme masif melalui media sosial dengan menyasar anak muda atau generasi milenial.

Dari data disebutkan olehnya penduduk terbesar di Indonesia adalah milenial 60 persen. Generasi milenial yang lahir tahun 90-an hingga 20-an. Dan mereka adaktif terhadap internet, 9 jam perhari mengakses internet.

Oleh karenanya dia mengingatkan kepada guru-guru dan dosen agar selalu mengawasi dan memberikan pemahaman keagamaan kepada muridnya agar tidak terpapar radikalisme dan terorisme.

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Anshor juga menyebutkan tahapan aksi teror, mulai dari sikap intoleransi, tidak menerima perbedaan, kemudian ekslusif, mengasingkan diri, ekstrimisme dan radikalisme.

Ridwan
Ridwan Selasa, 08 Juni 2021 08:31
Komentar