Logo Header

Hentikan Tayangan Sinetron Suara Hati Istri yang Promosikan Pedofil

Ridwan
Ridwan Kamis, 03 Juni 2021 01:49
Panji Saputra pemeran Pak Tirta dalam sinetron Zahra bersama dengan 3 istrinya termasuk Zahra (berambut panjang di sebelah kanan)Foto: dok. Instagram Panji Saputra
Panji Saputra pemeran Pak Tirta dalam sinetron Zahra bersama dengan 3 istrinya termasuk Zahra (berambut panjang di sebelah kanan)Foto: dok. Instagram Panji Saputra

TEBARAN.COM, JAKARTA – Sinetron Suara Hati Istri didesak warganet untuk diberhentikan tayang karena dianggap mempromosikan Pedofil.

Beban Aisyah Rawat Ibu dan Adiknya dapat Perhatian Andi Sudirman

Desakan muncul tidak hanya lewat media sosial. Tapi juga penandatanganan petisi dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (Kompaks).

Melansir laman petisi dibuat Alyzza pada Rabu 2 Juni 2021. Petisi itu berjudul “Hentikan Siaran “Suara Hati Istri” karena Mempromosikan Pedophilia”.

Hingga saat ini petisi sudah ditandatangani 41 ribu orang dan masih terus berlanjut. Mereka mendukung sinetron Suara Hati Istri yang tayang di Indosiar dihentikan.

Alasannya karena LC berperan sebagai Zahra dalam sinetron tersebut masih berusia di bawah umur. Dan memerankan karakter dewasa yang sudah berkeluarga.

Sinetron Suara Hati ini bercerita tentang kehidupan keluarga yang menganut prinsip poligami, di mana suami memiliki tiga istri. LC, yang masih berusia 15 tahun berperan sebagai karakter istri ketiga.

“Tidak sepantasnya seorang aktris di bawah umur memerankan karakter dewasa, terlebih lagi karakter yang sudah berkeluarga,” katanya dalam petisi itu.

“Bukan soal cocok atau tidak cocok beliau memerani karakter tersebut, tetapi lebih mengenai bagaimana pihak produser memilih seorang aktris di bawah umur untuk menjadi seorang istri,” lanjutnya.

Menurutnya, tontonan “Suara Hati Istri” dapat memberikan interpretasi yang salah untuk orang lain. Benar, poligami diperbolehkan dalam beberapa agama.

“Tapi apakah menikahi anak yang masih di bawah umur itu bermoral? Persoalan ini bukan soal memiliki istri ketiga itu pantas atau tidak. Melainkan, meminta aktris 15 tahun untuk memerankan seorang istri itu pantas atau tidak,”

Sinetron ini seolah mempromosikan pedophilia.

Meskipun di dalam plot cerita karakter diceritakan sebagai perempuan yang sudah lulus SMA, itu tidak menutup kenyataan, aktrisnya sendiri masih berusia 15 tahun.

“Kami khawatir atas ketidaknyamanan LC untuk ikut dalam produksi sinetron ini. Terlebih lagi terdapat satu scene (tautan ada di akhir petisi) mengisahkan soal ‘malam pertama’ Karakter dan dengan suaminya,” jelasnya.

Ya benar, di dalam cerita karakter sudah lulus dan berarti tidak ilegal dalam ceritanya.

“Tetapi sekali lagi, LC masih berumur 15 tahun. Tanyalah hati nurani anda, apakah anda mau seseorang mendekati anda dengan tujuan seksual meskipun anda masih di bawah umur? apakah anda mau anak anda melewati hal tersebut?”

“Pedophilia bukan tindakan yang benar, baik secara moral ataupun secara legal. Saya kecewa dengan dunia perfilman Indonesia,” tegasnya dalam petisi itu.

Pernyataan sikap Kompaks

KOMPAKS Kecam Keras Tayangan “Suara Hati Istri” di Indosiar yang Langgengkan dan Monetisasi Praktik Perkawinan Anak

Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) dengan ini mengecam keras tindak memalukan dan tidak pantas atas penayangan sinetron “Suara Hati Istri” yang mempertontonkan pemeran Zahra (LCF), seorang aktris berusia anak (15 tahun), sebagai karakter berusia 17 tahun yang menjadi istri ketiga dari lelaki berusia 39 tahun.

Usia pernikahan legal di Indonesia adalah 19 tahun untuk perempuan maupun laki-laki sesuai UU Perkawinan No. 16/2019 atas perubahan UU No. 1/1974. Selain itu, UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak menyatakan usia anak adalah sampai dengan 18 tahun. Oleh karenanya, penayangan sinetron ini telah melanggengkan praktik perkawinan anak yang merupakan bagian dari kekerasan berbasis gender dan momok bagi banyak anak perempuan di Indonesia.

Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2021 mencatat adanya peningkatan ekstrim angka perkawinan hingga 3x lipat pada 2020. Berdasarkan data Badan Pengadilan Agama (BADILAG), dari 23.126 kasus perkawinan anak (dispensasi nikah) di tahun 2019, naik tajam menjadi 64.211 kasus pada 2020. Padahal, perkawinan anak memiliki berdampak buruk pada anak perempuan, baik untuk perkembangan psikis anak, maupun dampak biologis yang bisa mengancam kesehatan bahkan menyebabkan kematian.

Sinetron “Suara Hati Istri” telah mempertontonkan jalan cerita, karakter, dan adegan yang mendukung dan melanggengkan praktik perkawinan anak, bahkan kekerasan seksual terhadap anak dengan promosi yang dilakukan melalui kanal Youtube Indosiar, yakni penggunaan judul clickbait pada salah satu episodenya: “Malam Pertama Zahra dan Pak Tirta! Istri Pertama & Kedua Panas? | Mega Series SHI – Zahra Episode 3”.

Tayangan dan promosi dari sinetron ini telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditujukan untuk kegiatan penyelenggaraan penyiaran baik TV maupun radio di Indonesia, utamanya Pasal 14 Ayat 2 mengenai Perlindungan Anak yang berbunyi “Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kepentingan anak dalam setiap aspek produksi siaran.”

Melihat berbagai fakta dan realita yang dialami korban perkawinan anak, sungguh miris ketika sebuah sinetron yang ditayangkan melalui saluran televisi nasional telah mendukung, melanggengkan, dan bahkan mendapatkan keuntungan (monetisasi) dari isu perkawinan anak alih-alih melakukan hal-hal yang dapat berkontribusi pada penghapusan kekerasan berbasis gender yang satu ini.

Atas situasi penayangan sinetron “Suara Hati Istri” yang mendukung dan melanggengkan praktik perkawinan anak, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) mengecam keras dan menuntut:

1. Komisi Penyiaran Indonesia untuk menghentikan sementara tayangan tersebut dan memberikan sanksi berat pada rumah produksi Mega Kreasi Films dan jaringan penyiar Indosiar yang memproduksi dan menayangkannya

2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk menginvestigasi tayangan tersebut dan berikan perlindungan kepada aktris anak yang terlibat dalam produksi tayangan tersebut, baik atas dampak produksi yang telah berlangsung maupun dampak dari pemberitaan media

3. Lembaga Sensor Film untuk bekerja secara kritis, benar, dan bertanggung jawab atas penayangan sinetron tersebut

4. Jaringan penyiar Indosiar untuk menghentikan sementara penayangannya, serta menarik konten promosi yang menayangkan cuplikan adegan-adegan dari sinetron tersebut dari kanal Youtube Indosiar ataupun platform lain yang digunakan sebagai kanal promosi

5. Jaringan penyiar Indosiar dan rumah produksi Mega Kreasi Films untuk sebagai gantinya bertanggung jawab secara sosial kepada masyarakat dengan memproduksi dan menayangkan konten edukatif terkait dengan isu perkawinan anak yang tidak melanggengkan bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender tersebut

Demikian Pernyataan Sikap ini kami sampaikan. Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) adalah jaringan masyarakat sipil yang terdiri dari 101 platform media sosial, kolektif maupun organisasi dengan isu kemanusiaan dan keberagaman, terutama kekerasan seksual.

Ridwan
Ridwan Kamis, 03 Juni 2021 01:49
Komentar