Logo Header

Supriansa Beri Apresiasi Dewas KPK Pecat Pegawai yang Curi Emas Sitaan 1,9 Kg

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comJumat, 09 April 2021 15:05
Supriansa SH MH
Supriansa SH MH

TEBARAN.COM, JAKARTA – Anggota Komisi lll DPR RI dari Fraksi Golkar, Supriansa memberikan apresiasi kepada Dewan Pengawas atau Dewas KPK karena telah memecat secara tidak hormat pegawai yang terbukti mencuri emas sitaan 1,9 kilogram kasus korupsi.

“Saya memberi apresiasi kepada Badan Pengawas KPK yang sudah bertindak tegas kepada yang bersangkutan. Semoga tidak terulang lagi perbuatan yang memalukan itu. KPK itu lembaga yang bersih maka tentu harus dijamin tindakan orang-orang di dalam juga bersih,” kata Supriansa, Jumat 9 April 2021.

Mantan Wakil Bupati Soppeng ini mengingatkan Dewas KPK soal pengawasan pengelolaan barang bukti di KPK. Menurutnya, harus ada pengawasan ketat.

“Iya perlu ada pengawasan melekat terhadap barang bukti di KPK,” terangnya.

Supriansa mengaku malu, dan kaget dengan adanya pencurian yang dilakukan internal KPK.

“Jujur saya kaget mendengar kabar pencurian itu di lakukan oleh pegawai KPK. Ke depan harus benar-benar selektif dalam menerima pegawai KPK. KPK aja dimalingin, apalagi proyek yang tidak diawasin, he-he..,” tandasnya.

Ketua Dewas KPK, Tumpak H. Panggabean mengatakan bahwa yang bersangkutan terbukti melakukan pencurian emas dari barang bukti kasus korupsi.

Dijelaskan olehnya, total ada 1,9 kg emas batangan yang dicuri. Sebanyak 1 kg itu diketahui digadaikan. Sisanya masih disimpan oleh IGAS.

Namun saat ketahuan emas yang 900 gram dikembalikan ke KPK, sedangkan emas yang sudah digadaikan ditebus kembali oleh IGAS dan dikembalikan ke KPK.

“Pada akhirnya barang bukti ini pada Maret 2021 berhasil ditebus oleh yang bersangkutan dengan cara mendapatkan berhasil menjual tanah warisan orang tuanya di Bali,” ucap Tumpak.

Atas perbuatan memalukan pegawai yang berasal dari bagian Direktorat Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi itu dipecat dengan tidak hormat.

“Majelis memutuskan yang bersangkutan perlu dijatuhi hukuman berat yaitu memberhentikan yang bersangkutan dengan tidak hormat,” kata Tumpak H. Panggabean di kantornya, Jakarta, Kamis, 8 April 2021.

Editor Tebaran.com
Editor Tebaran.comJumat, 09 April 2021 15:05
Komentar